Pemerintah Kantongi Penerimaan Pajak Rp 646,3 Triliun hingga April 2026

Pemerintah Kantongi Penerimaan Pajak Rp 646,3 Triliun hingga April 2026

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi penerimaan pajak nasional berhasil mencapai Rp 646,3 triliun hingga Selasa, 30 April 2026, ditengah tekanan ekonomi global.

Realisasi tersebut mencatatkan pertumbuhan sebesar 16,1 persen jika dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama di tahun sebelumnya yang berada di angka Rp 556,9 triliun, sebagaimana dilansir dari Money.

Peningkatan ini ditopang oleh pertumbuhan berbagai sektor pajak dan menunjukkan aktivitas konsumsi serta belanja masyarakat Indonesia yang masih terjaga dengan baik.

“Pajak tumbuh 16,1 persen dan mungkin akan lebih tinggi lagi, mungkin mendekati 20 persen. Artinya kita akan usahakan ke arah sana. Ini jelas prospeknya lebih bagus dibandingkan tahun lalu,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pertumbuhan positif ini sekaligus mematahkan kekhawatiran publik mengenai pelemahan setoran wajib pajak dari sektor pekerja maupun masyarakat umum.

“Ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi memang masih tinggi, karena belanja dan segalanya masih tinggi. Ini semua mematahkan tuduhan bahwa ekonomi sedang melambat dengan signifikan, apalagi mereka bilang menuju krisis 1997-1998,” kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Berdasarkan rincian datanya, setoran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) membukukan kenaikan tertinggi sebesar 40,2 persen menjadi Rp 221,2 triliun.

Selanjutnya, pos Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi bersama PPh Pasal 21 melonjak 25,1 persen ke posisi Rp 101,1 triliun, sementara PPh badan beserta depositnya tumbuh 5,1 persen dengan nilai Rp 135,2 triliun.

Penerimaan dari sektor PPh final, PPh Pasal 22, dan PPh Pasal 26 juga ikut terangkat sebesar 9,8 persen menjadi Rp 109,1 triliun, walaupun pos penerimaan pajak lainnya terkontraksi 12 persen ke angka Rp 79,7 triliun.

Dari pemetaan sektoral, bidang perdagangan menjadi penyumbang neto terbesar senilai Rp 161 triliun dengan kontribusi 24,9 persen yang didorong oleh transaksi daring dan bahan bakar minyak.

Sektor industri pengolahan menyusul dengan sumbangan Rp 145,3 triliun atau berkontribusi 22,5 persen, berkat dorongan peningkatan profitabilitas pada subsektor industri minyak kelapa sawit.

Adapun sektor pertambangan yang ditopang subsektor minyak dan gas bumi menyumbang Rp 56,7 triliun atau 8,8 persen, sedangkan sektor konstruksi dan real estat mencatat penerimaan Rp 24,2 triliun dengan kontribusi sebesar 3,7 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi