Hashim Djojohadikusumo Ungkap Pengalaman Bisnis Migas Prabowo Subianto

Hashim Djojohadikusumo Ungkap Pengalaman Bisnis Migas Prabowo Subianto

Pengalaman industri minyak yang dimiliki Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto diungkapkan oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo dalam acara Indonesia Petroleum Association (IPA) Convex 2026 di ICE BSD, Tangerang, seperti dilansir dari Detik Finance.

Prabowo Subianto disebut sebagai satu-satunya Presiden Indonesia yang mempunyai latar belakang sebagai pengusaha di sektor minyak. Pemahaman langsung mengenai tantangan investor migas saat menanamkan modal di luar negeri didapatkan sang Presiden melalui pengalaman tersebut.

"Saya mau sampaikan juga kepada para hadirin, bahwa satu-satunya Presiden di Republik Indonesia yang memiliki pengalaman selaku pengusaha minyak juga, adalah presiden sekarang ini, namanya Prabowo Subianto," ujar Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim.

Jabatan komisaris utama di perusahaan milik Hashim pernah diemban oleh Prabowo selama tujuh tahun. Perusahaan tersebut diketahui menjalankan operasional bisnis minyak di wilayah Kazakhstan dan Azerbaijan.

"Karena dia dulu chairman of the board of my company. Pak Prabowo selama 7 tahun, komisaris utama perusahaan saya, yang bergerak di bidang minyak Kazakhstan-Azerbaijan," terang Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim.

Potensi besar yang masih dimiliki sektor migas Indonesia dinilai memerlukan jaminan kepastian kontrak, stabilitas politik, serta keamanan investasi. Faktor-faktor tersebut dipandang menjadi syarat utama menarik minat para investor.

"Kita ada masa depan yang sangat cerah, sangat menjanjikan, tapi bersyarat. Syaratnya adalah kepastian hukum, fiscal terms, dan stabilitas politik, dan ada keamanan dan ketertiban," ujarnya Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim.

Ketiadaan kepatuhan kontrak serta faktor keamanan yang buruk diperkirakan dapat membuat investor meninggalkan Indonesia. Ketetapan mengenai syarat fiskal yang jelas juga menjadi penentu keputusan investasi.

"Kalau tidak ada keamanan dan ketertiban, investor tidak mau beroperasi, kalau tidak ada fiscal terms, investor tidak akan investasi, kalau tidak ada kepatuhan mengenai kontrak-kontrak, investor akan hengkang, investor akan meninggalkan kita," sambung Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim.

Artikel terkait

Rekomendasi