Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta melaporkan bahwa kelompok laki-laki masih mendominasi angka pengangguran di ibu kota pada Rabu (6/5/2026). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk laki-laki tercatat menyentuh angka 6,54 persen, yang nilainya lebih tinggi dibandingkan dengan persentase pengangguran pada kelompok perempuan.
Data tersebut dirilis berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) periode Februari 2026 yang dilansir dari Megapolitan. Secara akumulatif, terdapat 333.860 orang yang tidak memiliki pekerjaan di Jakarta, meski angka tersebut menunjukkan penurunan tipis sebesar 0,15 persen poin jika disandingkan dengan data Februari 2025.
Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, memberikan rincian mengenai perbandingan angka pengangguran berdasarkan gender tersebut dalam pernyataan resminya. Perbedaan ini menjadi sorotan utama dalam struktur ketenagakerjaan di wilayah Jakarta sepanjang awal tahun 2026.
"Pada Februari 2026, TPT laki-laki sebesar 6,54 persen, lebih tinggi dibandingkan TPT perempuan yang sebesar 5,28 persen," kata Kadarmanto, Kepala BPS DKI Jakarta.
Kenaikan justru terjadi pada jumlah angkatan kerja yang kini mencapai 5,53 juta orang, atau bertambah sebanyak 57.640 orang dari tahun sebelumnya. Dari total tersebut, sebanyak 5,20 juta orang telah terserap di lapangan kerja, yang berarti pertumbuhan jumlah orang bekerja melampaui pertumbuhan angkatan kerja itu sendiri.
Peningkatan jumlah penduduk yang bekerja tercatat sebanyak 62.180 orang, sehingga jumlah total pengangguran berkurang sekitar 4.540 orang. Namun, kesenjangan tetap terlihat pada Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di mana kelompok laki-laki mencapai 78,83 persen, sementara perempuan hanya 52,26 persen.
Selain faktor gender, jenjang pendidikan juga memberikan pengaruh signifikan terhadap statistik ketenagakerjaan ini. Lulusan pendidikan menengah, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), menempati posisi teratas sebagai penyumbang pengangguran terbanyak di Jakarta.
"TPT lulusan SMK tercatat 8,15 persen dan SMA 7,58 persen, tertinggi dibanding jenjang lainnya," kata Kadarmanto, Kepala BPS DKI Jakarta.
Data BPS menunjukkan lulusan SD ke bawah memiliki tingkat pengangguran 5,32 persen, diikuti SMP sebesar 3,87 persen, dan lulusan universitas sebesar 3,79 persen. Tingkat pengangguran terendah justru berada pada kelompok lulusan Diploma I/II/III yang hanya mencatatkan angka sebesar 3,58 persen.