Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta melaporkan bahwa lulusan sekolah menengah atas dan kejuruan menjadi penyumbang angka pengangguran terbesar di ibu kota pada Rabu (6/5/2026). Data terbaru menunjukkan kelompok pendidikan ini memiliki persentase pengangguran yang melampaui rata-rata wilayah.
Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, mengungkapkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk lulusan SMA umum mencapai angka 7,58 persen. Sementara itu, kelompok lulusan SMK mencatatkan persentase yang jauh lebih tinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
"Pada Februari 2026, TPT (tingkat pengangguran terbuka) tamatan SMA umum sebesar 7,58 persen," ujar Kadarmanto, Kepala BPS DKI Jakarta.
Data yang dilansir dari Megapolitan menunjukkan lulusan SMK mencatatkan TPT sebesar 8,15 persen. Sebaliknya, lulusan Diploma I/II/III memiliki tingkat pengangguran terendah sebesar 3,58 persen, diikuti universitas 3,79 persen, SMP 3,87 persen, serta lulusan SD ke bawah sebesar 5,32 persen.
Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) periode Februari 2026, total penduduk yang tidak bekerja di Jakarta mencapai 333.860 orang. Secara akumulatif, tingkat pengangguran di Jakarta berada pada posisi 6,03 persen.
"Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja, sekitar enam orang belum bekerja," kata Kadarmanto.
Analisis berdasarkan gender menunjukkan TPT laki-laki sebesar 6,54 persen, yang mana angka ini lebih tinggi dibandingkan TPT perempuan sebesar 5,28 persen. Meski demikian, jumlah angkatan kerja secara keseluruhan mengalami kenaikan hingga mencapai 5,53 juta orang.
Dari total angkatan kerja tersebut, sebanyak 5,20 juta orang telah terserap ke berbagai lapangan usaha. Terjadi kenaikan jumlah penduduk bekerja sebanyak 62.180 orang dibandingkan tahun sebelumnya, sementara jumlah pengangguran justru berkurang sebanyak 4.540 orang.
| Jenjang Pendidikan | Persentase TPT (%) |
|---|---|
| SMK | 8,15 |
| SMA Umum | 7,58 |
| SD ke Bawah | 5,32 |
| SMP | 3,87 |
| Universitas | 3,79 |
| Diploma I/II/III | 3,58 |
Sektor perdagangan tetap menjadi tumpuan utama penyerapan tenaga kerja di Jakarta dengan kontribusi sebesar 22,40 persen. Bidang lainnya yang menyerap tenaga kerja cukup besar mencakup sektor akomodasi serta makan minum dengan angka 13,28 persen.
Sektor transportasi dan penyimpanan berkontribusi sebesar 11,85 persen, disusul industri pengolahan 10,74 persen, dan aktivitas jasa lainnya 10,53 persen. Mayoritas penduduk Jakarta yang bekerja atau sebesar 57,91 persen memegang status sebagai karyawan atau buruh.
Proporsi pekerja di Jakarta saat ini masih didominasi oleh sektor formal yang mencapai 61,87 persen. Selebihnya, sebanyak 38,13 persen penduduk yang bekerja terserap di dalam sektor informal.