Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 4,68 persen pada Februari 2026, dengan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi kelompok pendidikan yang paling sulit terserap pasar kerja. Fenomena ini menunjukkan adanya tantangan struktural dalam penempatan tenaga kerja terdidik di tanah air.
Data yang dilansir dari Money menunjukkan bahwa dari total angkatan kerja sebanyak 154,91 juta orang, terdapat sekitar 7,24 juta individu yang belum mendapatkan pekerjaan. Meskipun jumlah pengangguran secara nasional turun 35 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, distribusi berdasarkan latar belakang pendidikan memperlihatkan ketimpangan yang signifikan.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, memberikan rincian mengenai kondisi tenaga kerja nasional tersebut dalam sebuah konferensi pers di Jakarta pada Selasa (5/5/2026).
"Tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2026 adalah 4,68 persen. Dari total angkatan kerja sebanyak 154,91 juta orang, terdapat 7,24 juta di antaranya belum terserap pasar kerja sehingga menjadi penganggur," ujar Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS.
Statistik resmi menunjukkan lulusan SMK menempati posisi teratas dengan angka pengangguran sebesar 7,74 persen. Di posisi berikutnya, lulusan SMA mencatat tingkat pengangguran 6,23 persen, diikuti kelompok pendidikan tinggi (Diploma IV hingga S3) sebesar 6,13 persen, sedangkan lulusan SD ke bawah memiliki tingkat pengangguran terendah di angka 2,32 persen.
Pihak berwenang menyoroti bahwa tren tingkat pengangguran berdasarkan ijazah terakhir ini cenderung menetap dan tidak banyak berubah dalam tiga tahun terakhir.
"Apabila dilihat berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, TPT mempunyai pola yang hampir sama dari Februari 2024 sampai dengan Februari 2026," tulis BPS.
Secara volume, lulusan SMA justru mendominasi komposisi pengangguran nasional dengan porsi 28,00 persen, berbanding terbalik dengan lulusan Diploma I/II/III yang hanya menyumbang 2,48 persen. Besarnya angka absolut pada lulusan SMA dipengaruhi oleh populasi mereka yang cukup besar dalam struktur angkatan kerja nasional saat ini.
Sektor tradisional seperti pertanian, perdagangan, dan industri masih menjadi penopang utama dengan menyerap 60,29 persen tenaga kerja. Rendahnya angka pengangguran pada lulusan SD ke bawah disebabkan oleh fleksibilitas mereka dalam sektor informal, sementara lulusan pendidikan menengah dan tinggi seringkali terkendala ekspektasi pekerjaan yang lebih spesifik di sektor formal.
| Jenjang Pendidikan | Tingkat Pengangguran (Persen) |
|---|---|
| Lulusan SMK | 7,74 |
| Lulusan SMA | 6,23 |
| Diploma IV, S1, S2, S3 | 6,13 |
| Diploma I/II/III | 4,80 |
| SD ke Bawah | 2,32 |
Meskipun menghadapi tantangan penyerapan, lulusan pendidikan tinggi tetap memperoleh kompensasi lebih besar. Rata-rata upah buruh dengan latar belakang Diploma IV hingga S3 mencapai Rp 4,77 juta, jauh melampaui pekerja lulusan SD ke bawah yang menerima rata-rata Rp 2,23 juta per bulan.