Pengembang Tunda Proyek Tower 2 Antasari Place Akibat Daya Beli Lesu

Pengembang Tunda Proyek Tower 2 Antasari Place Akibat Daya Beli Lesu

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertumbuhan ekonomi nasional yang menyentuh angka 5,61 persen rupanya belum cukup kuat untuk memacu nyali pengembang di sektor apartemen menengah

PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) secara resmi memilih untuk menarik rem pada proyek Tower 2 Antasari Place, Jakarta Selatan.

Langkah ini menjadi strategi menarik di tengah optimisme makro pemerintah, sekaligus mengonfirmasi adanya keretakan pada daya beli riil di segmen menengah.

Keputusan menunda peluncuran Tower 2 dari rencana awal tahun 2025 menjadi 2026 bukan sekadar urusan teknis pembangunan. Ini adalah kalkulasi defensif di tengah pasar yang sedang kehilangan selera.

CEO Paradise Indonesia, Anthony Prabowo Susilo, menegaskan, perusahaan kini lebih memilih bermain aman dengan mengalihkan prioritas pada proyek yang dianggap lebih strategis secara momentum.

"Fokus kami saat ini bergeser untuk memprioritaskan proyek di Balikpapan. Untuk Tower 2 Antasari Place, kami melihat peluang untuk mengevaluasi kembali fungsinya, apakah tetap sebagai residensial, atau dikaryakan menjadi hotel atau SOHO demi efisiensi aset," ujar Anthony menjawab Kompas.com, Senin (11/5/2026).

Strategi ini menunjukkan bahwa Paradise Indonesia tidak ingin terjebak dalam tumpukan inventori apartemen yang tidak terserap pasar.

Secara finansial, penundaan ini adalah bentuk mitigasi risiko yang pragmatis. Di atas kertas, INPP sebenarnya memiliki fundamental yang cukup stabil untuk melanjutkan konstruksi, namun urgensi serapan pasar menjadi variabel yang sulit dikontrol.

Direktur Keuangan INPP, Surina, menekankan, manajemen sangat berhati-hati dalam menjaga keseimbangan arus kas terhadap ekspansi.

Bagi Surina, keberlanjutan perusahaan jauh lebih penting daripada memaksakan peluncuran pada saat daya beli konsumen masih tertatih menghadapi fluktuasi ekonomi global dan domestik.

"Kami harus memastikan setiap modal yang keluar memiliki tingkat kepastian serapan yang jelas," ungkapnya.

Penundaan ini juga memberikan ruang bagi INPP untuk mengunci biaya konstruksi agar tidak membengkak pada masa depan.

Manajemen telah menyiapkan kontrak harga tetap (fixed price) untuk memagari proyek ini dari lonjakan harga material yang tidak terduga.

Di sisi lain, untuk Tower 1 masih tersisa sekitar Rp 70 unit, yang ditargetkan terjual habis tahun ini.

Kinerja Solid

Sementara itu, sepanjang Kuartal I-2026, INPP mencatatkan kinerja keuangan yang solid. Perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp 326,90 miliar, tumbuh 14 persen secara tahunan. Tak hanya itu, INPP juga berhasil membalikkan kinerja laba bersih menjadi positif.

Perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp 44,07 miliar pada kuartal I-2026, dari sebelumnya rugi bersih Rp 132,87 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Capaian ini mencerminkan pertumbuhan organik perusahaan yang ditopang oleh kinerja segmen usaha properti komersial.

"Pertumbuhan ini menunjukkan fundamental bisnis yang tetap solid, didukung oleh peningkatan pendapatan serta efisiensi operasional yang berkelanjutan,” imbuh Anthony.

Lebih lanjut, pertumbuhan kinerja ini ditopang oleh kontribusi seluruh segmen usaha, mulai dari komersial, perhotelan, hingga penjualan properti.

Secara rinci, segmen komersial menjadi penyumbang terbesar dengan pendapatan Rp157,14 miliar atau tumbuh 19 persen.

Disusul segmen perhotelan sebesar Rp 135,50 miliar, naik 4 persen.

Adapun segmen penjualan properti mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yakni melonjak 38% yoy menjadi Rp 34,26 miliar.

Artikel terkait

Rekomendasi