Sejumlah pengemudi ojek online di Kota Tangerang menyatakan setuju terhadap rencana penghapusan program tarif hemat pada dua aplikasi besar karena membebani pendapatan mereka. Berdasarkan laporan dari Megapolitan pada Rabu (20/5/2026), kebijakan potongan biaya dari aplikator dinilai merugikan pengemudi meski menguntungkan konsumen.
Para pekerja angkutan roda dua tersebut mengeluhkan program ini karena mereka diwajibkan membayar biaya tambahan tertentu agar bisa mendapatkan orderan dengan tarif murah. Salah satu pengemudi ojol yang mengikuti program ini, Anjas (29), membeberkan bahwa sistem tersebut mewajibkan pengemudi membayar agar masuk skema tarif hemat.
"Kalau hemat itu berbayar. Kita bayar buat masuk ke Bike Hemat, ke argo-argo hemat," ujar Anjas.
Ia menjelaskan bahwa keikutsertaan dalam program tersebut memang membuatnya menjadi prioritas utama saat sistem membagikan pesanan kepada pengemudi. Besaran potongan harian yang diterapkan oleh pihak aplikator seperti Grab bervariasi, disesuaikan dengan jumlah performa pesanan yang diselesaikan setiap hari.
"Kalau di Grab tergantung orderan. Kalau misalnya satu sampai dua order itu Rp 3.000. Dua sampai empat order Rp 8.500. Terus maksimal sehari bisa sampai Rp 20.000," jelas Anjas.
Menurut penilaiannya, program ini murni hanya memberikan keuntungan bagi pihak pelanggan yang mendambakan tarif perjalanan murah. Kebijakan ini memotong pendapatan harian yang seharusnya bisa dialokasikan pengemudi untuk memenuhi kebutuhan operasional dasar di jalanan.
"Harusnya itu bisa buat beli bensin, harusnya itu bisa buat beli makan, malah jadi buat kepotong ke aplikasi," kata Anjas.
Anjas juga menegaskan bahwa nominal tarif yang berlaku pada layanan hemat saat ini sudah menyentuh angka yang terlalu rendah bagi para pengemudi ojol. Kendati demikian, ia tidak menampik adanya rasa kekhawatiran jika layanan murah tersebut benar-benar dihentikan secara total oleh pihak perusahaan aplikasi.
"Senang sih kalau dihapus, cuma khawatir customer pindah ke platform lain karena enggak ada harga hemat lagi. Takutnya orderan jadi berkurang," kata Anjas.
Sikap mendukung penghapusan program juga datang dari pengemudi ojol lain yang memilih untuk tidak bergabung dalam skema tarif murah tersebut, Cecep (45). Dari pengamatannya di lapangan, mayoritas rekan seprofesinya terus mengeluhkan pendapatan dari tarif hemat yang tidak sebanding dengan beban kerja.
"Banyak driver merasa tarif yang diterima tidak sebanding dengan tenaga, waktu, dan biaya operasional di jalan seperti bensin, servis kendaraan, dan kebutuhan harian lainnya," kata Cecep.
Pria berusia 45 tahun ini mengaku sudah mengabaikan program hemat tersebut sejak awal peluncurannya di aplikasi. Ia secara konsisten memilih untuk menyaring dan mengambil orderan dengan skema reguler karena dinilai lebih masuk akal.
"Saya lebih nyaman mengambil order reguler karena sesuai dengan kondisi kerja dan penghasilan yang saya harapkan," kata Cecep.
Walaupun tidak ikut serta, Cecep tetap menyambut positif jika program tersebut resmi ditiadakan oleh aplikator demi mendongkrak kembali kesejahteraan para pengemudi. Langkah penghentian program ini diharapkan mampu mengembalikan skema pendapatan harian para pengemudi ojol sesuai dengan regulasi yang berlaku.
"Mudah-mudahan setelah layanan hemat dihentikan, penghasilan driver bisa naik lagi dan lebih sesuai aturan," ucap Cecep.