Pengrajin Gamelan di Sleman Berjuang Pertahankan Eksistensi Seni Tradisi

Pengrajin Gamelan di Sleman Berjuang Pertahankan Eksistensi Seni Tradisi

Supoyo, pengrajin gamelan asal Sleman yang akrab disapa Kecuk, terus berupaya melestarikan pembuatan instrumen musik tradisional di bengkel kerjanya pada 2 Februari 2026. Dilansir dari Katanetizen, usaha yang berlokasi di Jamblangan, Seyegan, ini menghadapi tantangan serius akibat penurunan pesanan yang signifikan dalam dua tahun terakhir.

Kecuk memulai perjalanan profesionalnya sebagai pengrajin mandiri sejak 2012 setelah belajar selama satu dekade di bawah bimbingan Pak Slamet di Turusan. Meskipun memiliki latar belakang pendidikan STM jurusan bangunan, ia kini mengandalkan kepekaan rasa untuk menghasilkan perangkat gamelan dari bahan plat besi dan perunggu.

Proses pembuatan gamelan menuntut ketelitian tinggi, terutama pada tahap penyetelan nada yang dipengaruhi oleh suasana hati sang pengrajin. Kecuk menjelaskan bahwa penentuan laras merupakan bagian yang paling menantang dalam keseluruhan proses produksi.

"Ngapa kowe? Mbok kana ngalih nggolek gawean liya," kenang Supoyo, menirukan perintah sang guru.

Penolakan awal dari gurunya saat proses pelarasan justru memicu Kecuk untuk belajar secara mandiri melalui pengamatan mendalam. Ia meyakini bahwa penguasaan teknik pembuatan akan secara otomatis membimbingnya memahami cara menyetel nada secara bertahap.

"Proses tersulit justru menentukan laras," ujar Supoyo.

Kecuk memandang gamelan sebagai sebuah arsitektur bunyi yang memerlukan harmoni dan kerja sama antar instrumen tanpa ada yang mendominasi. Keseimbangan batin menjadi kunci utama saat ia mulai mengerjakan tahap akhir penyelarasan suara.

"Nglaras niku gumantung pikiran lan ati," kata Supoyo pelan.

Pria berusia 59 tahun ini lebih memilih memproduksi gamelan untuk kesenian jatilan karena mekanisme transaksi yang dianggapnya lebih aman secara finansial dibandingkan pesanan institusi. Pengalaman merugi saat menggarap gamelan karawitan di masa lalu menjadi pelajaran berharga bagi kelangsungan usahanya.

"Hidup dari gamelan sekarang memang tidak mecukupi," ucap Supoyo lirih.

Saat ini, istrinya yang bernama Sarjiatun turut membantu operasional bengkel mulai dari proses penghalusan bahan hingga pengecatan akhir. Meskipun volume pesanan perangkat baru menurun, Kecuk sesekali masih menerima permintaan jasa pelarasan gamelan dari para pelaku seni di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi