Penguatan Dolar AS Menekan Harga Emas ke Level Terendah

Penguatan Dolar AS Menekan Harga Emas ke Level Terendah

Harga emas dunia merosot tajam ke level terendah dalam dua bulan terakhir pada perdagangan Rabu (3/6/2026) akibat tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi US Treasury. Investor kini mengalihkan perhatian pada peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta rilis data ketenagakerjaan terbaru yang berpotensi memengaruhi kebijakan moneter.

Data Refinitiv menunjukkan harga emas spot pada perdagangan Rabu (3/6/2026) ditutup melemah 1,18 persen ke posisi US$ 4.431,77 per troy ons, yang menjadi level terendah sejak 26 Maret 2026. Namun, pada Kamis (4/6/2026) pukul 06.38 WIB, harga komoditas ini sedikit pulih dengan menguat 0,40 persen ke level US$ 4.449,59 per troy ons.

Koreksi tajam tersebut dipicu oleh indeks dolar AS yang menguat ke posisi 99,529 pada perdagangan Rabu, yang merupakan level tertinggi dalam hampir sebulan terakhir. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi US Treasury tenor 10 tahun mendekati 4,5 persen sementara tenor 30 tahun hampir menyentuh 5 persen, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Peningkatan ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh memanasnya situasi di kawasan Teluk setelah serangan Iran ke Kuwait merusak bandara dan menimbulkan korban luka. Merespons hal tersebut, militer Amerika Serikat melancarkan serangan di dekat Selat Hormuz di tengah upaya diplomasi yang belum membuahkan hasil signifikan.

"Aktivitas emas saat ini banyak dipengaruhi meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran," kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, dikutip dari Refinitiv.

Menurut David Meger, eskalasi konflik tersebut mendorong kenaikan harga energi yang berpotensi meningkatkan ekspektasi inflasi global. Situasi ini diproyeksikan bisa memicu suku bunga yang lebih tinggi, memperkuat mata uang dolar AS, dan menekan pergerakan harga emas lebih lanjut.

Di sisi lain, pejabat bank sentral AS menunjukkan pandangan yang bervariasi mengenai arah kebijakan moneter. Presiden Federal Reserve New York John Williams menyatakan belum melihat urgensi perubahan suku bunga jangka pendek, sementara Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack menilai opsi kenaikan suku bunga tetap terbuka jika tekanan inflasi terus melonjak.

Pasar saat ini bersiap mengantisipasi rilis data nonfarm payrolls bulan Mei pada hari Jumat untuk membaca langkah The Fed selanjutnya. Sentimen pasar sebelumnya dipengaruhi laporan ADP yang mencatat penambahan 122.000 lapangan kerja swasta baru di AS pada Mei 2026, melampaui proyeksi pasar sebesar 117.000 pekerjaan.

Penurunan harga pada Rabu (3/6/2026) juga melanda komoditas perak yang ditutup ambles 3,2 persen ke posisi US$ 72,7 per troy ons sebagai level terendah sejak 4 Mei 2026. Sama seperti emas, harga perak mengalami sedikit perbaikan pada Kamis (4/6/2026) pukul 06.40 WIB dengan menguat 0,49 persen ke level US$ 63,06 per troy ons.

Artikel terkait

Rekomendasi