Penurunan Harga Avtur Pertamina Dongkrak Kinerja Emiten Maskapai Penerbangan

Penurunan Harga Avtur Pertamina Dongkrak Kinerja Emiten Maskapai Penerbangan

Kebijakan Pertamina Patra Niaga menurunkan harga avtur sebesar 10 persen mulai 1 Juni 2026 menjadi sentimen positif yang berpotensi menekan biaya operasional emiten penerbangan secara signifikan, seperti dilansir dari Investasi pada Selasa (2/6/2026).

Langkah ini diperkirakan memicu penghematan besar karena bahan bakar merupakan komponen pengeluaran terbesar bagi maskapai. Berdasarkan laporan keuangan tahun 2025, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatat beban bahan bakar sebesar US$573 juta atau 17,9 persen dari pendapatan, sementara PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) membukukan pengeluaran bahan bakar Rp3,16 triliun atau 40,1 persen dari pendapatan.

Jika tingkat konsumsi tidak berubah, pemotongan harga avtur ini berpotensi menghemat biaya tahunan GIAA sekitar US$57 juta dan CMPP sekitar Rp316 miliar. Dampak dari efisiensi ini diproyeksikan mulai terlihat pada laporan kinerja Kuartal II-2026 dan akan semakin optimal pada paruh kedua tahun ini jika tren harga rendah terus bertahan.

“Penurunan harga avtur merupakan sentimen positif karena bahan bakar masih menjadi komponen biaya terbesar dalam operasional maskapai,” ujar Imam Gunadi, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT).

Analis melihat adanya perbedaan dampak bagi masing-masing emiten maskapai penerbangan di bursa efek.

“Secara relatif, CMPP berpotensi memperoleh manfaat yang lebih besar terhadap margin dan laba bersih karena porsi biaya bahan bakarnya lebih tinggi,” jelas Imam.

Di sisi lain, kebijakan ini memicu kemungkinan penyesuaian biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge yang berimbas pada penurunan harga tiket pesawat.

“Penurunan fuel surcharge memang dapat menekan yield, tetapi di saat yang sama maskapai juga mendapatkan penghematan biaya bahan bakar. Dampaknya terhadap margin tidak otomatis negatif,” katanya.

Penurunan tarif penerbangan dinilai dapat menstimulasi volume penumpang, khususnya pada segmen konsumen domestik yang sensitif terhadap harga.

“Jika harga tiket lebih terjangkau, maka permintaan yang sebelumnya tertahan bisa kembali muncul, terutama di segmen leisure dan rute domestik,” imbuhnya.

Penambahan jumlah penumpang ini diproyeksikan mampu mendongkrak tingkat keterisian kursi pesawat atau load factor.

“Kenaikan load factor berpotensi mengimbangi penurunan yield, sehingga tekanan terhadap profitabilitas dapat diminimalkan,” jelas Imam.

Meski diuntungkan oleh harga bahan bakar, sektor penerbangan domestik masih menghadapi tantangan eksternal dari fluktuasi nilai tukar rupiah.

“Pelemahan rupiah dapat mengurangi manfaat dari penurunan harga avtur. Dalam kondisi ekstrem, penghematan bahan bakar bisa tergerus oleh kenaikan biaya berbasis dolar,” ujarnya.

Namun untuk jangka pendek, kombinasi penurunan harga avtur dan momentum liburan diyakini tetap menyokong perbaikan kinerja industri penerbangan pada Kuartal II-2026.

“CMPP berpotensi menjadi penerima manfaat terbesar karena struktur biayanya lebih sensitif terhadap harga bahan bakar. Sementara GIAA juga terdorong, namun dampaknya relatif lebih terbatas,” katanya.

Atas pertimbangan leverage operasional yang tinggi terhadap penurunan biaya bahan bakar tersebut, IPOT saat ini memberikan rekomendasi yang lebih konstruktif terhadap saham CMPP dibandingkan GIAA.

Artikel terkait

Rekomendasi