Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengungkapkan penutupan pabrik PT Krakatau Osaka Steel (KOS) dipicu oleh anjloknya permintaan baja untuk proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) dan jalan tol, Kamis (7/5/2026). Perusahaan patungan asal Jepang ini dijadwalkan berhenti beroperasi secara total pada Juni 2026 mendatang.
Penghentian aktivitas produksi perusahaan yang berbasis di Cilegon tersebut sebenarnya sudah dilakukan sejak April 2026. Sebagaimana dilansir dari Money, keputusan penutupan diambil manajemen melalui rapat Dewan Direksi pada 24 Januari 2026 setelah mencatatkan kerugian beruntun sejak tahun 2022.
Said Iqbal menjelaskan bahwa melambatnya pembangunan infrastruktur strategis nasional menjadi faktor utama lesunya penjualan produk PT KOS. Menurutnya, proyek IKN dan jalan tol merupakan penyerap utama hasil produksi baja perusahaan tersebut.
"Program IKN, proyek IKN dan proyek jalan tol. Karena dia sudah melambat dan kecenderungan berhenti, maka permintaan bajanya menurun," kata Said Iqbal, Presiden KSPI.
Selain faktor domestik, Said menyoroti ketidakmampuan produk lokal dalam bersaing dengan material bangunan impor dari China. Ia menyebut pasar saat ini dibanjiri besi beton tipis atau sering disebut baja "banci" yang dibanderol dengan harga jauh lebih rendah.
"Karena produk-produk PT KOS tidak bisa bersaing," kata Said Iqbal.
Dampak dari penutupan ini menyasar hampir 200 pekerja yang harus menghadapi pemutusan hubungan kerja (PHK). Saat ini, pihak serikat pekerja masih terus mengawal proses pemenuhan hak-hak karyawan yang terkena dampak operasional tersebut.
"Sedang dalam proses perundingan. Memang manajemen akan memberikan sekitar dua kali aturan untuk memberikan pesangon kepada buruh yang di PHK," ujar Said Iqbal.
Kementerian Perindustrian membenarkan bahwa tekanan produk impor murah menjadi beban berat bagi produsen baja dalam negeri. Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief menyatakan situasi ini semakin diperkeruh oleh pelemahan daya serap sektor konstruksi nasional.
"Di satu sisi, produsen dalam negeri berkomitmen menjaga kualitas produk, namun di satu sisi lain harus menghadapi tekanan harga dari produk impor yang lebih rendah. Situasi ini semakin diperberat oleh melemahnya permintaan domestik, khususnya dari sektor konstruksi," kata Febri Hendri Antoni Arief, Juru Bicara Kementerian Perindustrian.
Pemerintah mencatat PT KOS telah berupaya mempertahankan eksistensi meskipun kondisi pasar tidak berpihak sejak tiga tahun terakhir. KSPI melalui Partai Buruh kini telah menyiagakan Posko Oranye guna memfasilitasi pengaduan para pekerja yang kehilangan mata pencaharian akibat penutupan pabrik ini.