Kementerian Pertanian mengidentifikasi lonjakan populasi ayam petelur hingga 30 persen sebagai pemicu utama anjloknya harga telur di tingkat peternak pada Selasa (12/5/2026). Fenomena ini disertai aksi banting harga antarpelaku usaha di sentra produksi Pulau Jawa agar stok komoditas cepat terserap pasar.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menekankan pentingnya mendorong kenaikan harga di tingkat peternak atau on farm. Langkah ini diperlukan agar harga jual segera mendekati harga acuan pemerintah, mengingat harga di level konsumen masih terpantau stabil.
"Kami meminta besok sudah ada pergerakan harga telur di tingkat peternak agar meningkat menuju harga acuan pembelian yang ditetapkan pemerintah," kata Agung Suganda, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan.
Dilansir dari Ekonomi, proyeksi produksi telur nasional pada 2026 mencapai 7,3 juta ton per tahun. Dengan kebutuhan nasional sebesar 6 juta ton, terdapat surplus sekitar 800.000 ton atau 13 persen yang mayoritas terkonsentrasi di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.
Minat peternak untuk menambah populasi dan membangun kandang baru dilaporkan meningkat signifikan. Hal ini dipicu oleh optimisme terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta kehadiran satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di berbagai daerah.
"Minat peternak untuk menambah kandang cukup tinggi karena ada MBG. Itu menjadi daya tarik tersendiri," katanya Agung Suganda, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan.
Pemerintah menyoroti adanya pemanfaatan situasi oleh pedagang perantara atau middleman yang membeli telur dengan harga murah saat peternak melakukan aksi jual cepat. Saat ini, Harga Acuan Pembelian (HAP) di produsen ditetapkan maksimal Rp26.500 per kg, namun realita lapangan menunjukkan angka yang jauh lebih rendah.
Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan), Herry Dermawan, mengungkapkan bahwa harga di tingkat peternak saat ini hanya menyentuh kisaran Rp21.000 per kilogram. Nilai tersebut berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) yang mencapai Rp24.000 per kilogram.
"Siapa yang menikmati Rp8.000 [selisih Rp21.000 ke Rp29.000] itu? Harga sekarang ini bukan harga asli," katanya Herry Dermawan, Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan).
Kementerian Pertanian berencana melakukan distribusi surplus telur dari Pulau Jawa ke wilayah yang mengalami defisit produksi seperti Papua dan Maluku. Langkah ini diambil untuk menyeimbangkan pasokan dan menjaga stabilitas harga secara nasional melalui koordinasi dengan asosiasi serta koperasi.