PT Sahabat Mikro Fintek (Samir) membeberkan sejumlah faktor yang berpotensi memicu lonjakan kredit macet pada industri finansial teknologi, Senin (1/6/2026). Masalah ini dipicu oleh minimnya pemahaman keuangan digital masyarakat serta pola konsumsi yang berlebihan.
Kondisi ini diperparah oleh penurunan daya beli masyarakat akibat ketidakpastian situasi ekonomi global saat ini. Masalah makro tersebut secara langsung memengaruhi stabilitas pendapatan para pengguna jasa pinjaman.
"Ditambah, adanya faktor ketidakpastian kondisi ekonomi yang berimbas kepada penurunan daya beli masyarakat dan stabilitas pendapatan peminjam atau borrower," ucap Junjungan Pramana Putra Rumapea, Direktur Operasional Samir sebagaimana dilansir dari Keuangan.
Selain faktor ekonomi makro, ketidakakuratan sistem penilaian kredit dalam memitigasi risiko juga menjadi penyebab lain. Junjungan menilai fenomena pengelolaan utang yang tidak sehat serta proses penagihan yang tidak efektif turut memperbesar risiko gagal bayar tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, manajemen siap menjalankan strategi penekanan risiko secara berkelanjutan. Langkah komprehensif ini ditempuh melalui penguatan manajemen risiko, penerapan asas kehati-hatian, serta inovasi sistem yang konsisten.
Di tengah tantangan tersebut, prospek bisnis pembiayaan berbasis digital dinilai tetap cerah untuk waktu mendatang. Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang belum terjangkau perbankan konvensional menjadi ceruk pasar potensial.
Pertumbuhan industri ini dipastikan akan tetap berjalan beriringan dengan kepatuhan penuh terhadap regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Aspek perlindungan konsumen menjadi fokus utama operasional perusahaan ke depan.
"Mengedepankan juga perlindungan konsumen melalui transparansi, edukasi finansial, dan praktik penagihan yang beretika," tutur Junjungan Pramana Putra Rumapea, Direktur Operasional Samir.
Penerapan kebijakan bisnis yang ketat ini diharapkan mampu menjaga kesehatan industri pembiayaan digital nasional. Langkah ini sekaligus menjadi instrumen pendukung keberlanjutan sektor usaha produktif di Indonesia.
Berdasarkan data internal perusahaan per 29 Mei 2026, tingkat risiko kredit macet agregat atau TWP90 Samir berada pada posisi 1,13 persen. Rasio kualitas pembiayaan tersebut masih berada di bawah ambang batas maksimal yang ditetapkan OJK sebesar 5 persen.