Gubernur BI Ungkap Penyebab Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Gubernur BI Ungkap Penyebab Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan sejumlah faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan hingga melewati level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Penjelasan tersebut disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di kompleks Parlemen pada Senin (18/5/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

Depresiasi mata uang Garuda pada periode April hingga Juni dipicu oleh melonjaknya kebutuhan valuta asing di dalam negeri. Lonjakan permintaan tersebut terjadi untuk keperluan pembiayaan ibadah haji, pembayaran utang, serta pembagian dividen perusahaan.

"Karena April, Mei, Juni ini ada demand untuk divisa itu besar untuk biasanya ada kemarin jemaah haji, terus kemudian pembayaran dividen dan juga pembayaran utang, seperti itu ya," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Faktor eksternal juga turut memperparah tekanan terhadap mata uang domestik seiring penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang global. Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang berlangsung sejak Februari tahun ini sempat memicu kenaikan harga minyak mentah Brent hingga melampaui US$120 per barel.

Tingginya angka inflasi di Amerika Serikat berimbas pada menurunnya ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan The Fed. Situasi ini memicu kenaikan imbal hasil obligasi AS dan mendorong terjadinya aliran modal keluar dari pasar negara berkembang.

"Tentu saja suku bunga global itu akan berdampak di dalam negeri ya. Kalau suku bunga dalam negeri nggak naik ya outflow ya, tapi kalau nggak mau outflow, suku bunga dalam negeri itu harus naik kan. Artinya, terjadi suatu pelarian modal dari emerging market ke negara maju, khususnya Amerika Serikat," jelas Perry Warjiyo.

Kendati demikian, bank sentral memproyeksikan tekanan terhadap pergerakan rupiah hanya berlangsung sementara dan berpotensi kembali menguat pada Juli hingga Agustus. BI menilai nilai tukar saat ini berada di posisi yang lebih rendah dari nilai fundamentalnya karena rata-rata tahunan masih berjalan sesuai target APBN.

"Sehingga kenapa kami sampaikan bahwa nilai tukar sekarang itu undervalue. Rujukannya undervalued karena memang kami masih meyakini 2026 in rerata nilai tukar seluruh tahun adalah Rp 16.500 (sesuai APBN), kisarannya Rp 16.200 sampai Rp 16.800 itu masih kami meyakini ya, karena rerata year to date-nya Rp 16.900," tutup Perry Warjiyo.

Artikel terkait

Rekomendasi