Kemenperin Ungkap Penyebab Penutupan Operasional PT Krakatau Osaka Steel

Kemenperin Ungkap Penyebab Penutupan Operasional PT Krakatau Osaka Steel

Kementerian Perindustrian mengungkapkan bahwa tekanan bertubi-tubi dari produk baja impor murah di pasar domestik menjadi alasan utama di balik keputusan penutupan operasional PT Krakatau Osaka Steel (KOS). Perusahaan patungan antara PT Krakatau Steel Tbk dan Osaka Steel Co., Ltd. ini resmi menghentikan seluruh kegiatan produksinya pada akhir April 2026 setelah mencatatkan tren kerugian sejak 2022.

Kinerja bisnis perusahaan terus merosot akibat ketatnya persaingan harga dengan produk impor yang membanjiri pasar Indonesia, sebagaimana dilansir dari Money. Selain faktor harga, lesunya permintaan dari sektor konstruksi nasional memperburuk kondisi keuangan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief menjelaskan bahwa produsen lokal berada dalam posisi sulit karena harus menjaga standar kualitas di tengah gempuran harga rendah dari luar negeri.

"Di satu sisi, produsen dalam negeri berkomitmen menjaga kualitas produk, namun di sisi lain harus menghadapi tekanan harga dari produk impor yang lebih rendah. Situasi ini semakin diperberat oleh melemahnya permintaan domestik, khususnya dari sektor konstruksi," kata Febri Hendri Antoni Arief, Juru Bicara Kementerian Perindustrian.

Kondisi ini tidak lepas dari dominasi produk baja asal China yang memiliki efisiensi biaya tinggi sehingga mampu menjual produk dengan harga jauh lebih kompetitif. Masalah diversifikasi produk yang terbatas juga disebut menjadi faktor internal yang menghambat daya saing KOS di tengah kondisi kelebihan pasokan global.

"Selain keterbatasan diversifikasi produk, penurunan permintaan dan tekanan impor baja murah, kondisi kelebihan pasokan di tingkat global juga turut mempengaruhi daya saing perusahaan," ujar Febri Hendri Antoni Arief, Juru Bicara Kementerian Perindustrian.

Pemerintah kini tengah mengevaluasi efektivitas kebijakan perlindungan industri nasional, termasuk aturan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib dan kebijakan pembatasan impor. Kemenperin juga menekankan pentingnya instrumen trade remedies untuk membentengi sektor strategis dari ketidakpastian geopolitik global.

"Kami akan melakukan kajian secara komprehensif guna merumuskan strategi yang lebih efektif dalam menjaga keberlanjutan industri baja dalam negeri," ucap Febri Hendri Antoni Arief, Juru Bicara Kementerian Perindustrian.

Upaya penguatan industri kedepannya akan melibatkan koordinasi lintas pemangku kepentingan untuk membenahi struktur biaya produksi dan merespons dinamika permintaan domestik yang fluktuatif.

"Keberhasilan penguatan industri baja nasional memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan, baik dari pemerintah, pelaku industri, maupun masyarakat. Selain itu, dinamika geopolitik global, struktur biaya produksi, serta tingkat permintaan domestik juga akan sangat memengaruhi efektivitas kebijakan yang dijalankan," kata Febri Hendri Antoni Arief, Juru Bicara Kementerian Perindustrian.

Setelah menghentikan lini produksi pada April lalu, PT Krakatau Osaka Steel dijadwalkan menyelesaikan seluruh proses penutupan aktivitas bisnisnya pada Juni 2026 mendatang. Keputusan strategis ini merupakan tindak lanjut dari hasil rapat Dewan Direksi yang telah digelar pada 23 Januari 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi