Pasar tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan ketangguhan dengan penambahan 115.000 lapangan kerja nonpertanian pada April di tengah bayang-bayang perlambatan ekonomi global. Data yang dilansir dari Money ini melampaui estimasi konsensus Dow Jones yang sebelumnya memproyeksikan penambahan hanya sebesar 55.000 posisi.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mencatat angka penyerapan tenaga kerja pada April tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi Maret yang mencapai 185.000 pekerjaan. Meski terjadi penurunan kecepatan rekrutmen, tingkat pengangguran nasional AS tetap tertahan di level 4,3 persen.
Sektor kesehatan mendominasi pertumbuhan lapangan kerja dengan kontribusi 37.000 posisi baru, diikuti sektor transportasi dan pergudangan sebanyak 30.000 pekerjaan. Sebaliknya, sektor layanan informasi tercatat kehilangan 13.000 pekerjaan, sebuah tren penurunan sejak akhir 2022 yang dipicu oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Pencapaian ini mendapat perhatian dari para analis pasar modal terkait kondisi fundamental ekonomi di tengah tekanan suku bunga. Chief Investment Strategist Brown Brothers Harriman, Scott Clemons, memberikan pandangannya terhadap laporan ketenagakerjaan tersebut.
"Ini adalah bukti ketahanan mendasar ekonomi dan pasar tenaga kerja AS, meski di tengah berbagai kekhawatiran besar terkait Timur Tengah, pengangguran, inflasi, dan The Fed," ujar Clemons.
Strategis investasi tersebut juga mengingatkan bahwa volatilitas data bulanan masih berpotensi terjadi dan memerlukan observasi jangka panjang untuk memastikan tren pertumbuhan yang stabil.
"Selama setahun terakhir ada volatilitas data tenaga kerja dari bulan ke bulan. Saya rasa kondisi itu belum sepenuhnya hilang. Jika kita mendapatkan dua atau tiga bulan lagi dengan pertumbuhan pekerjaan yang solid, maka saya akan merasa lebih yakin," lanjut Clemons.
Di sisi lain, laporan ini memperlihatkan adanya pelemahan bertahap pada indikator partisipasi angkatan kerja yang turun ke level 61,8 persen. Senior Economist North America Allianz, Dan North, menilai kondisi pasar tenaga kerja saat ini masih berada dalam koridor yang cukup solid.
"Saya mencoba mencari titik lemahnya dalam laporan ini dan hasilnya cukup solid bulan ini," kata North.
Ekonom senior tersebut menambahkan bahwa pergerakan angka ini mencerminkan proses pendinginan pasar secara perlahan tanpa menunjukkan tanda-tanda kerusakan struktural yang ekstrem.
"Secara keseluruhan angkanya memang tidak terlalu impresif, tetapi masih menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja yang bertahap, bukan sebuah keruntuhan," lanjut North.
Data pendapatan pekerja menunjukkan kenaikan rata-rata upah per jam sebesar 0,2 persen secara bulanan atau 3,6 persen secara tahunan, angka yang sedikit di bawah ekspektasi pasar. Kondisi ini muncul saat Bank Sentral AS atau The Fed tengah menghadapi perbedaan pandangan internal mengenai arah kebijakan suku bunga acuan di masa depan.
Revisi data periode sebelumnya menunjukkan dinamika yang beragam, di mana angka Maret direvisi naik 7.000 pekerjaan, namun data Februari dikoreksi turun menjadi kehilangan 156.000 pekerjaan. Saat ini pasar memproyeksikan suku bunga AS akan tetap bertahan pada level sekarang hingga akhir tahun 2026.