MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil penyesuaian atau rebalancing indeks pasar modal Indonesia pada Selasa, 12 Mei 2026, guna menentukan arah aliran dana investasi asing selama dua bulan mendatang. Dilansir dari Suara, langkah ini dinilai krusial bagi posisi Indonesia di kategori pasar negara berkembang atau emerging market.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama pemangku kepentingan terkait telah melakukan berbagai upaya perbaikan transparansi untuk mempertahankan posisi pasar modal dalam indeks global tersebut. Hal ini merespons pembekuan indeks yang sempat dilakukan MSCI pada Februari lalu sebelum proses reformasi pasar dijalankan.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa risiko terhadap pengumuman penyesuaian tersebut masih tetap ada meskipun perbaikan data telah dilakukan. Ia menekankan pentingnya aspek keterbukaan informasi dalam penilaian integritas pasar Indonesia.
"Misalnya, kita lihat secara granularitas data, keterbukaan informasi Itu mungkin salah satu yang terbaik lah untuk hal keterbukaan integritas yang kita sampaikan. Jadi, moga-moga ini juga menjadi konsideran supaya Indonesia tetap di emerging market," ujar Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK.
Pihak regulator meminta agar para pelaku pasar tidak memberikan reaksi berlebihan terhadap hasil pengumuman yang dikeluarkan. OJK memandang keluar atau masuknya emiten dalam daftar indeks merupakan bagian wajar dari penyesuaian pasar yang dinamis.
"Saya selalu sampaikan namanya kita melakukan perbaikan, kemungkinan ada saham yang akan disesuaikan ya Ini namanya rebalancing index kan, jadi ya kalaupun besok pengumumannya kita tunggu Kan mereka udah bilang freeze kan, jadi nggak ada yang baru yang masuk tapi yang lama mungkin akan keluar. Tapi ya kita lihat semoga ini bisa kita antisipasi dengan baik," ucap Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK.
Mandiri Sekuritas memproyeksikan bahwa bobot emiten Indonesia dalam indeks MSCI akan menjadi indikator utama aksi beli atau jual investor mancanegara. Kepastian ini ditunggu setelah Bursa Efek Indonesia melakukan serangkaian reformasi pasar sesuai kriteria penyusun indeks global tersebut.
Deputi Kepala Equity Research & Strategy Mandiri Sekuritas, Kresna Hutabarat, memberikan pandangan mengenai dampak volatilitas ekonomi makro terhadap target indeks domestik. Meskipun ada potensi tekanan, pihaknya masih memantau perkembangan variabel energi dan beban margin perusahaan.
"Mengenai target IHSG ke depannya, kami masih menjaga target IHSG kami di 9.050 poin. Tapi kembali memang kami melihat potensi revisi ke bawah mengingat adanya potensi tekanan margin akibat dari volatilitas makro yang meningkat dan juga tekanan beban energi ke depannya," kata Kresna Hutabarat, Deputi Kepala Equity Research & Strategy Mandiri Sekuritas.