Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mengumumkan jumlah komitmen kredit yang belum dicairkan oleh nasabah atau undisbursed loan mencapai Rp2.527 triliun hingga Maret 2026, dalam Rapat Dengar Pendapat Umum bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Data yang dilansir dari Detik Finance tersebut menunjukkan pertumbuhan dana mengendap sebesar 7,35 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Lonjakan ini dipicu oleh penundaan realisasi pinjaman oleh sejumlah debitur meskipun proses persetujuan dari pihak bank telah rampung.
Wakil Ketua Umum Perbanas Nixon LP Napitupulu menjelaskan bahwa komunikasi intensif terus dilakukan pihak perbankan dengan para nasabah terkait status fasilitas pinjaman tersebut.
"Nah, memang ini ada beberapa hal yang kita bicarakan dengan masing-masing nasabah, banyak komitmen yang sudah dibuka tapi belum dicairkan. Memang kita lihat ada beberapa yang memang belum butuh, ada juga memang yang masih menunda," ungkap Nixon dalam RDPU P2SK bersama Komisi XI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Peningkatan penundaan pencairan modal kerja ini tercatat berada di atas rata-rata industri pada kelompok bank besar. Kenaikan tertinggi terjadi pada bank kategori KBMI 3 sebesar 12,50 persen dan KBMI 4 sebesar 12,24 persen, sedangkan penurunan justru terlihat pada kategori KBMI 1 dan 2.
"Kalau kita lihat KBMI 3 dan 4 sebenarnya di atas industri, yang mengalami penurunan justru terjadi paling banyak adalah di KBMI 1 dan 2, di mana dia cukup tinggi," ujar Nixon yang Juga Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
Dalam forum yang sama, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menyoroti tantangan penetrasi pembiayaan yang ditunjukkan melalui perbandingan data makroekonomi antarnegara. Rasio penyaluran kredit perbankan nasional terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia saat ini baru menyentuh angka kisaran 32 persen.
"Fakta lain menunjukkan bahwa rasio kredit terhadap PDB Indonesia masih relatif rendah jika kita bandingkan dengan jumlah negara ASEAN lainnya. Indonesia berada di kisaran sekitar 32%, jauh di bawah negara seperti Thailand, kemudian Malaysia, Singapura, maupun Vietnam," terang Putrama yang juga Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
Ketua Umum Himbara Putrama Wahju Setyawan menilai posisi tersebut mengindikasikan bahwa pasar pembiayaan domestik masih memiliki ruang ekspansi yang sangat luas untuk menopang perekonomian. Ia mendorong adanya langkah penggabungan strategis demi mendongkrak ketahanan industri keuangan di masa depan.
"Dalam konteks ini konsolidasi bukan semata-mata adalah pengurangan jumlah bank, melainkan penguatan kapasitas industri dengan tujuan adalah membentuk sebuah institusi yang memiliki skala usaha yang lebih kuat, lebih efisien, resilien, serta memiliki daya saing regional maupun global," tutur Putrama.