Kondisi permodalan industri perbankan Indonesia tetap menunjukkan posisi yang solid untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global serta fluktuasi nilai tukar rupiah pada Minggu (17/5/2026).
Rasio Kecukupan Modal (CAR) perbankan nasional saat ini dinilai masih cukup tebal untuk menjadi penyangga risiko, meskipun tercatat mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode Maret 2025 yang mencapai 25,38 persen, seperti dilansir dari Keuangan.
Analis Global Markets Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menjelaskan bahwa situasi modal perbankan domestik saat ini masih berada dalam kondisi yang sangat tangguh.
"Posisi permodalan bank saat ini menurut saya masih solid. Ini menunjukkan sektor perbankan kita masih kuat untuk menghadapi kondisi perekonomian saat ini," kata Myrdal Gunarto, Analis Global Markets Maybank Indonesia.
Ketahanan modal tersebut dinilai mampu meredam dampak dari pelemahan mata uang rupiah serta kenaikan harga minyak mentah di pasar dunia. Myrdal menambahkan bahwa sejumlah perbankan kini mulai menerapkan selektivitas tinggi dalam penyaluran kredit, khususnya pada sektor yang bergantung pada bahan baku impor.
Laju penyaluran kredit pada sektor-sektor sensitif tersebut diproyeksikan akan tertahan selama kuartal II-2026, tetapi industri dinilai tetap bertumbuh berkat simulasi beban yang matang.
Sejalan dengan kondisi tersebut, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatatkan rasio CAR sebesar 22,9 persen pada kuartal I-2026, angka yang berada jauh di atas ketentuan minimum regulator sebesar 14,7 persen.
Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi mengungkapkan bahwa tebalnya modal tersebut menjadi modal utama perseroan untuk melakukan ekspansi bisnis.
"Struktur permodalan BRI saat ini benar-benar memberikan ruang yang fleksibel bagi kami untuk terus mendorong pertumbuhan kredit," kata Achmad Royadi, Direktur Finance & Strategy BRI.
Manajemen emiten berkode saham BBRI ini menegaskan komitmennya untuk mempertahankan ketahanan modal demi mendukung pertumbuhan bisnis yang sehat secara berkelanjutan.
Melalui hasil pengujian ketahanan yang berkala, BRI memproyeksikan pertumbuhan kinerja keuangan yang lebih positif pada kuartal II-2026 setelah mengantongi laba bersih Rp 15,5 triliun dan menyalurkan kredit Rp 1.562 triliun hingga kuartal I-2026.
Kinerja kokoh juga diperlihatkan oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang berhasil meningkatkan rasio CAR mereka menjadi 27 persen pada kuartal I-2026, naik dari posisi 26,6 persen pada tahun sebelumnya.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Heryn menegaskan fokus perseroan dalam menjaga stabilitas keuangan internal di tengah dinamika pasar keuangan makro.
"BCA senantiasa mempertahankan posisi permodalan dan likuiditas yang solid guna menghadapi ketidakpastian global," kata Hera F. Heryn, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA.
BCA secara konsisten menerapkan pengujian beban makroekonomi untuk memastikan pertumbuhan tetap positif tahun ini, di mana pada kuartal I-2026 perseroan telah membukukan laba bersih Rp 14,7 triliun dengan realisasi kredit mencapai Rp 994 triliun.