Pergerakan Valas Utama Beragam Usai Rilis Risalah FOMC

Pergerakan Valas Utama Beragam Usai Rilis Risalah FOMC

Proyeksi pergerakan valuta asing (valas) utama menunjukkan arah yang beragam setelah perilisan risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Mayoritas pejabat The Fed mengisyaratkan pengetatan kebijakan moneter dapat kembali dilakukan jika inflasi tetap bertahan di atas target 2%.

Dikutip dari Investasi, pasangan valas EUR/USD berada di level 1,1625 atau terkoreksi 0,93% secara year to date (ytd) pada Kamis (21/5/2026) pukul 15.40 WIB. Sementara itu, pairing GBP/USD melemah 0,07% ytd ke level 1,3433, dan AUD/USD menguat 6,93% ke level 0,7133. Di sisi lain, USD/JPY menguat 1,39% ke level 158,98, sedangkan USD/CHF melemah 0,83% ytd ke posisi 0,7867.

Research and Development ICDX, Girta Putra Yoga, menjelaskan bahwa sikap hawkish dari The Fed ikut memperkuat posisi dolar AS. Meski demikian, mata uang euro masih mendapatkan sentimen positif dari perkiraan kenaikan suku bunga European Central Bank sebesar 25 basis poin pada Juni mendatang.

“Kondisi ini mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS sehingga membatasi ruang penguatan EUR/USD,” ujar Yoga kepada Kontan, Kamis (21/5/2026).

Untuk pasangan GBP/USD, pergerakan poundsterling terpantau masih terbatas di kisaran 1,3440 setelah data inflasi Inggris menunjukkan penurunan yang signifikan. Inflasi tahunan Inggris April berada di angka 2,8%, turun dari 3,3% pada Maret, sementara inflasi inti melandai menjadi 2,5%.

“Kondisi tersebut menahan penguatan poundsterling terhadap dolar AS. Investor kini menantikan rilis data PMI Inggris dan Amerika Serikat yang dinilai dapat memberikan petunjuk baru mengenai kondisi aktivitas ekonomi kedua negara,” terang Yoga.

Tekanan Geopolitik dan Normalisasi Kebijakan BoJ

Mata uang dolar Australia mengalami tekanan akibat data PMI manufaktur domestik yang turun menjadi 50,3, serta PMI jasa dan komposit yang masuk ke zona kontraksi. Selain faktor internal, penguatan greenback dipicu oleh tingginya permintaan aset safe haven akibat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

“Kondisi ini mencerminkan perlambatan aktivitas bisnis Australia sehingga membebani pergerakan dolar Australia terhadap dolar AS,” kata Yoga.

Sementara pada pasangan USD/JPY, mata uang yen mendapatkan dorongan menyusul pernyataan hawkish dari anggota dewan kebijakan Bank of Japan (BoJ), Junko Koeda. Ia menyatakan inflasi inti Jepang sudah mendekati target 2%, yang membuka ruang bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga secara bertahap.

Pada pasangan USD/CHF, minat terhadap franc Swiss meningkat seiring langkah investor mengamankan aset di tengah ketidakpastian negosiasi AS-Iran.

“Situasi tersebut mendorong investor untuk beralih ke aset yang dinilai lebih aman dan memberikan tekanan terhadap pergerakan USD/CHF dalam jangka pendek” imbuh Yoga.

Prospek Valas Utama hingga Kuartal III-2026

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa kekuatan mata uang utama akan sangat bergantung pada kebijakan suku bunga masing-masing bank sentral. Saat ini, The Fed dinilai memiliki posisi fundamental paling kuat karena kondisi ekonomi AS yang masih solid di tengah risiko kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi.

“Kondisi ini membuat dolar AS masih memiliki fundamental paling kuat di antara valas utama,” ujar Lukman.

Lukman memproyeksikan hingga awal kuartal III-2026, pasangan EUR/USD akan bergerak di rentang 1,1400 - 1,5500. Pasangan GBP/USD diprediksi berada pada kisaran 1,2900 - 1,3000, sedangkan AUD/USD pada rentang 0,7000 - 0,7100. Untuk USD/JPY diperkirakan bergerak di kisaran 155 - 165, dan USD/CHF pada rentang 0,7800 - 0,8000.

Artikel terkait

Rekomendasi