Lonjakan permintaan produk chip memori kelas atas untuk kebutuhan pusat data memicu revisi naik target finansial global. Sektor teknologi di kawasan Asia Utara kini menjadi motor utama yang menggerakkan performa pasar negara berkembang secara keseluruhan.
Lembaga keuangan global Goldman Sachs memprediksi pertumbuhan laba per saham atau earnings per share indeks MSCI Emerging Markets akan menyentuh angka 55 persen pada tahun ini. Estimasi tersebut meningkat dari perkiraan lama yang berada di angka 45 persen.
Untuk periode tahun 2027, pertumbuhan pendapatan per saham tersebut diperkirakan berada di angka 20 persen dari estimasi sebelumnya sebesar 19 persen. Keterbatasan pasokan barang yang memicu kenaikan harga global membuat dua raksasa teknologi asal Korea Selatan, SK Hynix dan Samsung Electronics, sukses menembus valuasi sebesar 1 triliun dollar AS atau sekitar Rp18.046 triliun pada bulan lalu.
Lembaga keuangan global tersebut menilai bahwa momentum kenaikan ini masih memiliki ruang untuk terus bergerak positif dalam jangka panjang.
"Kami pikir reli yang didorong oleh pendapatan ini dapat verlanjut mengingat siklus naik yang lebih panjang, yang mengarah pada peningkatan lebih lanjut dalam ekspektasi pendapatan dan target indeks kami di Korea dan Taiwan," kata Goldman dalam catatan pada Rabu.
Berdasarkan catatan dari laporan Money yang dikutip oleh pojokpapua.id, indeks acuan tersebut melonjak 9 persen pada Mei, melewati pertumbuhan indeks S&P 500 di Amerika Serikat yang hanya mencapai 5 persen. Proyeksi baru ini menunjukkan potensi kenaikan hampir 12 persen dari posisi penutupan terakhir yang berada di level 1.787,88, setelah Goldman Sachs menaikkan proyeksi target 12 bulan untuk MSCI Emerging Markets Index menjadi 2.000 pada Rabu, 3 Juni 2026.
Namun, pertumbuhan ini diestimasi tidak berlangsung merata di seluruh kawasan. Jika wilayah Asia Utara dikeluarkan dari kalkulasi data, laba per saham diproyeksikan hanya tumbuh sebesar 11 persen pada 2026 dan 2027 karena Asia Utara memegang porsi sekitar setengah dari total bobot indeks.
Di luar sektor teknologi, pasar yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga seperti Afrika Selatan, Brasil, dan Uni Emirat Arab dinilai memiliki peluang untuk mencatatkan performa optimal. Pandangan optimistis itu muncul di tengah peluang tercapainya kesepakatan bilateral antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat meredakan ketegangan konflik geopolitik.
Mata uang won Korea Selatan, rand Afrika Selatan, zloty Polandia, serta peso Chili berpeluang besar untuk menguat apabila risiko geopolitik global menyusut. Goldman Sachs menambahkan bahwa pasar obligasi lokal di negara-negara tersebut juga memiliki ruang pemulihan yang cukup besar.