Emas kian diminati masyarakat Indonesia sebagai instrumen pelindung nilai atau safe haven asset di tengah ketidakpastian ekonomi. Dilansir dari Investasi, data World Gold Council (WGC) menunjukkan lonjakan signifikan pada sektor ini.
Permintaan emas batangan dan koin di dalam negeri tumbuh pesat sebesar 47% secara tahunan pada kuartal I - 2026. Angka akumulasi dari pertumbuhan tersebut kini telah menyentuh posisi 23,6 ton.
Peningkatan minat investasi ini berjalan beriringan dengan langkah kebijakan moneter terbaru. Bank Indonesia menetapkan kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) demi memitigasi tekanan inflasi.
Kebijakan tersebut diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah ini sekaligus menyudahi masa penahanan suku bunga acuan yang sempat berlangsung selama delapan bulan terakhir.
Tekanan eksternal terhadap roda ekonomi domestik memicu penyesuaian moneter tersebut. Dampak dari kenaikan suku bunga diproyeksikan segera memengaruhi sektor pembiayaan masyarakat.
Sektor yang paling cepat terdampak adalah kredit dengan skema floating rate. Jenis pembiayaan ini mencakup Kredit Pemilikan Rumah (KPR) serta berbagai instrumen pinjaman konsumtif lainnya.
Pergeseran Strategi Diversifikasi Aset
Situasi makroekonomi yang dinamis ini mendorong masyarakat untuk lebih selektif dan berhati-hati dalam mengelola anggaran keuangan pribadi. Fokus publik kini bergeser ke perlindungan jangka panjang.
Masyarakat tidak lagi sekadar mengejar keuntungan instan berdurasi pendek. Upaya mempertahankan nilai aset dari gerusan inflasi kini menjadi prioritas utama bagi para investor domestik.
Dalam dinamika seperti ini, logam mulia dinilai menawarkan stabilitas yang lebih solid. Karakternya dinilai jauh lebih aman jika dibandingkan dengan instrumen investasi lain yang berbasis bunga.
"Di tengah perubahan kondisi ekonomi dan kenaikan suku bunga, masyarakat kini semakin memperhatikan pentingnya diversifikasi aset dan perencanaan finansial jangka panjang. Emas masih menjadi salah satu instrumen yang relevan karena memiliki karakter sebagai safe haven asset," ujar Brand Manager Lakuemas Esther Napitupulu dalam keterangan resmi, Rabu (27/5/2026).
Kemudahan berinvestasi komoditas ini sekarang didukung oleh kehadiran platform digital seperti Lakuemas. Layanan tersebut menyediakan akses transaksi yang diklaim aman serta transparan.
Setiap penempatan dana investor dijamin melalui kepemilikan emas fisik dengan rasio kelayakan 1:1. Mekanisme ini dirancang untuk menghadirkan rasa aman sekaligus jaminan nilai.
Fleksibilitas sistem digital juga memungkinkan publik untuk masuk ke pasar secara bertahap. Skema investasi tersebut dapat disesuaikan secara mandiri dengan kapasitas finansial aktual masing-masing.