Persediaan Minyak Global Menyusut Cepat dan Ancaman Krisis Energi Mengintai

Persediaan Minyak Global Menyusut Cepat dan Ancaman Krisis Energi Mengintai

Persediaan minyak global terus menyusut dengan laju tercepat untuk menutupi gangguan pasokan besar di Timur Tengah. Kondisi tersebut diperkirakan akan mendekati level kritis apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.

Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanan terbarunya pekan ini memperingatkan, harga minyak dan bahan bakar berpotensi terus meningkat menjelang puncak permintaan musim panas sebagai konsekuensi dari kondisi tersebut, seperti dikutip dari Money.

"Cadangan yang menyusut cepat di tengah gangguan pasokan yang terus berlanjut dapat memicu lonjakan harga di masa mendatang," tulis IEA mengutip CNBC, Minggu (17/5/2026).

Dampak kehilangan pasokan sejauh ini belum sepenuhnya dirasakan oleh pasar minyak. Hal itu terjadi karena pasar masih ditopang oleh stok komersial milik industri, cadangan strategis pemerintah, serta minyak yang masih berada dalam perjalanan melalui kapal tanker.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh CEO Exxon Mobil, Darren Woods, dalam paparan kinerja kuartal pertama perusahaan. Menurut Woods, persediaan tersebut membantu meredam dampak gangguan selama Maret dan April.

Namun, stok komersial pada akhirnya akan turun ke level yang tidak lagi mampu menopang pasokan.

“Kami memperkirakan jika kondisi itu terjadi dan Selat Hormuz masih tetap ditutup, maka harga di pasar akan terus meningkat,” ujar Woods.

Bank UBS dalam laporan yang dirilis Selasa memperkirakan persediaan minyak global berada di level tertinggi dalam satu dekade, yakni sedikit di atas 8 miliar barrel pada akhir Februari. Namun pada akhir April, stok tersebut turun menjadi 7,8 miliar barrel.

Analis UBS memproyeksikan persediaan minyak dapat turun mendekati rekor terendah 7,6 miliar barrel pada akhir Mei jika permintaan tetap stabil dibanding bulan sebelumnya.

Menurut analis JPMorgan dalam catatan pada 30 April 2026, penurunan hingga level tersebut akan memberikan tekanan besar pada rantai pasok energi global.

Meskipun angka miliaran barrel terdengar besar, JPMorgan menilai hanya sekitar 800 juga barrel yang benar-benar tersedia tanpa membebani sistem distribusi. Sisanya diperlukan untuk menjaga pipa dan tangki tetap terisi pada level minimum agar rantai pasok dapat berjalan efisien.

“Seperti tekanan darah dalam tubuh manusia, persoalannya ada pada sirkulasi,” kata Kepala Strategi Komoditas Global JPMorgan, Natasha Kaneva.

“Sistem tidak gagal karena minyak habis, tetapi karena jaringan sirkulasinya tidak lagi memiliki volume kerja yang cukup,” lanjut Kaneva.

JPMorgan memperkirakan stok minyak global bisa turun ke level kritis sebesar 6,8 miliar barrel pada September apabila Selat Hormuz masih ditutup hingga saat itu.

Sementara itu, Rapidan Energy memproyeksikan cadangan produk bahan bakar diprediksi mencapai level kritis lebih cepat, yakni pada Juli atau Agustus.

Rapidan menilai ekonomi global dapat “lumpuh” karena infrastruktur transportasi penting tidak mampu memperoleh bahan bakar berapa pun harganya.

Meski demikian, para analis menilai kemungkinan persediaan benar-benar jatuh ke level kritis tersebut relatif kecil. Sebelum hal itu terjadi, harga minyak dan bahan bakar diperkirakan akan melonjak tajam sehingga menekan permintaan dan memicu kontraksi ekonomi yang berat.

“Hal itu kemungkinan terjadi sebelum kuartal III 2026,” tulis analis Rapidan.

Artikel terkait

Rekomendasi