Bisnis.com, JAKARTA - Sektor pertambangan mengalami kontraksi 2,14% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I/2026, di tengah kinerja ekonomi yang tetap tumbuh positif sebesar 5,61% yoy. Tekanan terhadap sektor ini pun diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir tahun ini.
Tak hanya secara tahunan, kontraksi kinerja sektor pertambangan juga tecermin pada periode kuartalan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju perkembangan industri pertambangan terkoreksi hingga 8,20% pada kuartal I/2026 bila dibandingkan dengan realisasi kuartal IV/2025.
Padahal, sektor pertambangan masih menjadi salah satu kontributor utama penopang utama produk domestik bruto (PDB). Bersama dengan empat sektor lainnya yakni industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan konstruksi, sektor pertambangan berkontribusi sekitar 63,52% terhadap total PDB.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pelemahan kinerja sektor pertambangan terutama dipicu penurunan volume produksi batu bara dan migas, di tengah perlambatan permintaan global, khususnya dari China, serta tekanan harga komoditas.
“Penyebab utama kontraksi tersebut menurut saya adalah pelemahan volume produksi, terutama pada batu bara dan migas,” jelasnya kepada Bisnis, dikutip Minggu (10/5).
Selain faktor eksternal, dia mengatakan bahwa penyesuaian kuota produksi dan keterlambatan persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) juga menjadi faktor yang menahan aktivitas produksi tambang pada awal 2026.
Josua menilai kondisi tersebut berdampak luas karena sektor pertambangan masih memiliki keterkaitan besar terhadap ekspor, penerimaan negara, industri alat berat, logistik, hingga ekonomi daerah penghasil komoditas.
“Jika penurunan kuota produksi batu bara dan nikel dilakukan terlalu cepat tanpa melihat permintaan ekspor, kemampuan serapan hilirisasi, dan kesiapan perusahaan, dampaknya bisa menekan volume produksi dan PDB sektor pertambangan,” ujarnya.
Lebih jauh, Josua menilai pelemahan kinerja pertambangan tidak hanya mencerminkan tekanan pada satu sektor, tetapi juga menjadi sinyal bahwa sumber pertumbuhan ekonomi berbasis komoditas mulai melemah.
“Jadi, kontraksi ini bukan sekadar masalah satu sektor, tetapi sinyal bahwa sumber pertumbuhan berbasis komoditas sedang tidak sekokoh tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Prospek hingga Akhir Tahun
Sementara itu, Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai kontraksi sektor pertambangan pada kuartal I/2026 terutama dipicu pelemahan harga komoditas global yang mengurangi insentif perusahaan untuk meningkatkan produksi.
Menurut dia, koreksi harga komoditas membuat aktivitas produksi tambang menjadi lebih terbatas sehingga berdampak terhadap penurunan nilai tambah bruto sektor pertambangan. Selain tekanan harga, Nailul menilai kenaikan biaya distribusi di tengah konflik Timur Tengah turut menekan permintaan komoditas pertambangan secara global.
“Ketika harga turun, maka insentif perusahaan pertambangan untuk memproduksi lebih banyak akan berkurang. Maka sangat bisa dimengerti ada koreksi terhadap nilai tambah bruto sektor pertambangan,” ujarnya.
Dia memperkirakan tekanan terhadap sektor tambang masih akan berlanjut hingga akhir tahun seiring gejolak geopolitik global yang belum mereda dan lonjakan harga minyak mentah dunia.
“Permintaan komoditas tambang kita masih mengalami penyesuaian hingga akhir tahun ini,” katanya.
| Lapangan Usaha | Distribusi PDB (%) | Pertumbuhan yoy (%) |
| -------------------------- | ------------------ | ------------------- |
| Industri Pengolahan | 19,07 | 5,04 |
| Perdagangan | 13,28 | 6,26 |
| Pertanian | 12,67 | 4,97 |
| Konstruksi | 9,81 | 5,49 |
| Pertambangan | 8,69 | -2,14 |
| Transportasi & Pergudangan | 6,11 | 8,04 |
| Infokom | 4,42 | 7,14 |
| Jasa Keuangan | 4,20 | 4,68 |
| Administrasi Pemerintahan | 3,37 | 6,45 |
| Akomodasi & Makan Minum | 2,79 | 13,14 |
| Jasa Pendidikan | 2,76 | 5,18 |
| Real Estat | 2,26 | 3,54 |
| Jasa Lainnya | 2,20 | 9,91 |
| Jasa Perusahaan | 1,97 | 4,91 |
| Jasa Kesehatan | 1,24 | 7,62 |
| Pengadaan Listrik & Gas | 0,95 | -0,99 |
| Pengadaan Air | 0,06 | 0,42 |