Kemandirian ekonomi dan keberlanjutan lingkungan masyarakat pedesaan kini terus dipacu melalui pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT). Upaya nyata ini diwujudkan oleh Pertamina melalui program Desa Energi Berdikari (DEB). Dilansir dari Detik Finance, program ini mendorong desa-desa untuk memanfaatkan energi bersih secara optimal.
Salah satu wujud nyata keberhasilan program ini terletak di DEB Keliki, Kecamatan Tegalallang, Kabupaten Gianyar, Bali. Desa binaan Pertamina tersebut fokus pada penyediaan energi terbarukan untuk mendukung pengolahan sampah menjadi kompos. Selain itu, energi bersih ini juga digunakan untuk mendukung sistem pertanian ramah lingkungan demi ketahanan pangan.
Aktivitas pengolahan limbah dan operasional pompa penggerak pengairan sawah di desa ini sepenuhnya mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Kehadiran infrastruktur ini menjadi solusi penting di tengah tingginya volume limbah domestik yang dihasilkan oleh masyarakat setempat.
"Di Desa Keliki setidaknya menghasilkan sekitar 7 ton sampah per hari, dengan produktivitas yang sangat tinggi tersebut kehadiran Tempat Pengolahan Sampah Terpadu - Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) sangat membantu masyarakat untuk mengelola dan mengolah sampah," ujar Local Hero sekaligus Ketua BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) Yowana Bakti Keliki, I Wayan Sumada dalam keterangannya, Senin (1/6/2026).Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela kunjungan jajaran Dewan Komisaris Pertamina ke DEB Keliki pada Kamis (28/5/2026). Kunjungan ini memantau langsung dampak positif dari integrasi teknologi hijau di tingkat pedesaan.
Menurut I Wayan Sumada, operasional pengolahan sampah membutuhkan pasokan listrik dari PLTS berkapasitas terpasang 10,5 kWp (Kilowatt Peak). Fasilitas solar panel ini mampu memproduksi energi surya sebesar 14.256 kWh/tahun. Kehadirannya memotong biaya listrik hingga Rp21 juta/tahun dan mereduksi emisi GRK sebanyak 13,7 ton CO2eq/tahun.
Kerja sama dengan badan usaha milik negara ini juga membawa dampak positif terhadap perubahan perilaku warga. Masyarakat kini memiliki kesadaran yang tinggi untuk melakukan pemilahan sampah rumah tangga ke dalam kategori organik, anorganik, dan residu.
"Saat ini kesadaran untuk masyarakat memilih sampah itu sudah sangat tinggi berkat kerjasama kami dengan Pertamina, kami mengelola sampah untuk dikembalikan ke alam hingga kemudian bisa semakin bermanfaat lagi untuk alam," tambah I Wayan Sumada.Sektor pertanian di DEB Keliki juga mendapat pasokan energi dari PLTS berkapasitas terpasang 17,5 kWp. Energi ini dialokasikan untuk memutar pompa air tanah bertenaga surya. Pompa tersebut mengairi area persawahan pada musim kemarau di 7 Subak, yaitu Tain Kambing, Sebali, Uma Desa Keliki, Jungut, Umelikode, Bangkiangsidem, dan Lauh Batu.
Infrastruktur energi hijau untuk sektor irigasi ini mampu menyuplai energi surya hingga 84.000 kWh/tahun. Penggunaan alat ini menghemat biaya listrik Rp35 juta per tahun serta menekan emisi GRK hingga 23,1 ton CO2eq/tahun.
Peningkatan Hasil Panen Padi Organik
Penerapan sistem pertanian berbasis EBT ini mendongkrak produktivitas panen padi organik di DEB Keliki secara signifikan. Sebelum mendapatkan pembinaan dan program padi organik, hasil panen warga hanya berkisar 5 sampai 5,5 ton per hektare. Angka produktivitas tersebut kini melonjak tajam hingga mencapai 8,7 ton per hektare.
Keberhasilan program yang memberikan dampak ganda terhadap kelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi ini mendapat apresiasi dari pihak manajemen Pertamina.
"Dari program DEB Keliki ini, menunjukkan komitmen Pertamina dalam memberikan dukungan kepada masyarakat melalui program-program yang dimiliki. Melihat keberhasilan DEB Keliki, saya dan jajaran Dewan Komisaris sangat senang, semoga program TSJL Perusahaan, bisa lebih memberikan dampak yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat," ujar Komisaris Independen Pertamina, Raden Adjeng Sondaryani.DEB Keliki kini bertransformasi menjadi ekosistem percontohan penggerak roda ekonomi lokal lewat aktivitas Eco Village dan Agrikultur. Program ini memberikan manfaat langsung kepada 1.200 Kepala Keluarga, menyerap 9 tenaga kerja, serta menggerakkan kolaborasi bersama 15 UMKM pemuda desa.
Aktivitas pengelolaan limbah di desa ini juga menghasilkan produk sampingan bernilai ekonomis seperti kompos organik dan eco enzyme berkualitas tinggi. Keberhasilan ini menarik perhatian luas, terbukti dengan adanya kunjungan dari 6.000 tamu, baik dari kalangan perguruan tinggi maupun wisatawan mancanegara.