Pertamina Dorong Transisi Energi Antisipasi Kerentanan Harga Minyak Dunia

Pertamina Dorong Transisi Energi Antisipasi Kerentanan Harga Minyak Dunia

Gejolak harga energi global akibat konflik di Timur Tengah memicu urgensi penguatan ketahanan energi nasional melalui percepatan transisi ke energi terbarukan. Ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil dinilai membuat posisi ekonomi negara rentan terhadap guncangan pasar internasional, sebagaimana dilansir dari Lestari.

Direktur Transformasi, Digitalisasi, dan Sustainability Pertamina Patra Niaga, Tenny Elfrida, dalam sebuah webinar pada Rabu (16/5/2026), menegaskan bahwa pergeseran ke energi bersih tidak dapat ditunda lagi. Krisis energi saat ini menjadi momentum krusial bagi Indonesia untuk meninggalkan sumber energi konvensional.

“Ini kami baru melihat terlambat ya kita shifting ke arah green energy,” ujar Tenny Elfrida, Direktur Transformasi, Digitalisasi, dan Sustainability Pertamina Patra Niaga.

Investasi sektor energi bersih selama ini dianggap belum ekonomis sehingga memperlambat transisi. Namun, Tenny menekankan bahwa lonjakan harga minyak mentah justru menimbulkan beban lebih besar bagi anggaran negara melalui subsidi energi yang membengkak serta kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat.

“Kalau Indonesia mau mencapai net zero emission, kami juga membutuhkan dukungan untuk mengembangkan bioetanol, SAF, hidrogen, dan energi alternatif lainnya,” kata Tenny Elfrida, Direktur Transformasi, Digitalisasi, dan Sustainability Pertamina Patra Niaga.

Pengembangan teknologi seperti sustainable aviation fuel (SAF) dan hidrogen memerlukan riset panjang serta dukungan regulasi pemerintah agar layak secara ekonomi. Dukungan ekosistem melalui insentif dianggap krusial agar beban investasi tidak hanya ditanggung oleh pelaku usaha di sektor energi.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Unggul Priyanto, menyoroti ketertinggalan Indonesia dalam pengembangan bioetanol dibanding biodiesel berbasis sawit. Ia mendorong percepatan mandatori E20 atau pencampuran 20 persen bioetanol ke dalam bensin untuk menekan angka impor bahan bakar minyak.

“Bioetanol harus dipercepat. Kalau menunggu produksi dalam negeri, akan terlalu lama, terutama dalam situasi krisis,” ujar Unggul Priyanto, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN).

Selain optimalisasi sumber daya hayati, Unggul mengusulkan pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai beban dasar pasokan listrik nasional. Nuklir, bersama panas bumi dan air, diproyeksikan dapat menggantikan posisi batu bara guna menjamin stabilitas pasokan energi yang berkelanjutan.

Lektor Kepala Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung, Retno Gumilang Dewi, menambahkan bahwa diversifikasi energi sangat penting berkaca pada pengalaman negara lain seperti Iran. Penggunaan berbagai sumber energi, termasuk nuklir, dianggap menjadi solusi strategis dalam menjaga ketahanan nasional dari fluktuasi global.

Artikel terkait

Rekomendasi