Pertamina Turunkan Harga Avtur Guna Meredakan Tekanan Margin Maskapai

Pertamina Turunkan Harga Avtur Guna Meredakan Tekanan Margin Maskapai

Pertamina Patra Niaga menurunkan harga avtur sebesar 10 persen per 1 Juni 2026 yang diperkirakan menjadi sentimen positif bagi emiten maskapai penerbangan untuk mengurangi tekanan operasional. Kebijakan ini dilansir dari Investasi diharapkan mampu meringankan beban beban usaha maskapai domestik di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah.

Biaya operasional maskapai penerbangan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga bahan bakar avtur sebagai komponen utama pengeluaran. Penurunan harga ini diproyeksikan memberikan ruang bagi perbaikan arus kas perusahaan penerbangan nasional.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menjelaskan bahwa porsi pengeluaran untuk bahan bakar menyerap bagian terbesar dari total biaya operasional maskapai.

“Biaya bahan bakar biasanya berkontribusi sekitar 25%-40% terhadap total biaya operasional maskapai. Penurunan harga avtur tentu membantu mengurangi tekanan biaya,” ujar Liza kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).

Meskipun harga bahan bakar menurun, dampak kebijakan tersebut dinilai belum menjadi pendorong utama kinerja keuangan secara keseluruhan karena adanya faktor pelemahan nilai tukar rupiah yang signifikan sejak awal tahun.

“Bagi GIAA maupun CMPP, ini lebih ke mengurangi tekanan biaya daripada menjadi game changer, terutama karena rupiah telah melemah sekitar 7% sejak awal tahun,” jelas Liza.

Faktor lain yang menggerus dampak positif penurunan avtur adalah beban operasional penting lainnya seperti sewa armada dan suku cadang yang masih harus dibayarkan menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat.

“Secara teori, harga tiket yang lebih murah bisa meningkatkan volume penumpang. Namun kami tidak melihat potensi pengulangan lonjakan seperti periode 2022-2023 saat terjadi efek reopening dan revenge travel,” kata Liza.

Daya beli masyarakat yang masih tertahan, khususnya pada segmen kelas menengah, menjadi alasan volume penumpang belum akan melonjak drastis meskipun tarif tiket berpotensi turun akibat penyesuaian biaya tambahan bahan bakar.

“Harga tiket domestik saat ini juga masih relatif tinggi dibandingkan periode pra-pandemi, sehingga sebagian masyarakat cenderung mengurangi frekuensi perjalanan,” ungkap Liza.

Kondisi ekonomi makro dan pelemahan rupiah juga dinilai membuat biaya perjalanan ke luar negeri membengkak, namun situasi ini tidak langsung menguntungkan rute penerbangan domestik.

“Dengan kondisi daya beli, nilai tukar rupiah, dan permintaan penumpang yang masih menantang, kami cenderung netral terhadap kedua saham tersebut untuk saat ini,” tutup Liza.

Artikel terkait

Rekomendasi