Pelaku pasar global mengalihkan fokus pada agenda pertemuan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan China yang dijadwalkan berlangsung pada 13 hingga 15 Mei 2026 mendatang. Langkah ini diambil guna meredam ketidakpastian pasar setelah negosiasi antara AS dan Iran menemui jalan buntu yang memicu kekhawatiran konflik militer.
Situasi ketegangan geopolitik tersebut berisiko mengerek harga minyak dunia dan mengguncang stabilitas keuangan internasional sebagaimana dilansir dari Money. Selain faktor eksternal, tekanan inflasi di Amerika Serikat juga diproyeksikan meningkat dari 3,3 persen menjadi kisaran 3,5 hingga 3,8 persen pada pekan ini.
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menilai pertemuan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut merupakan momentum krusial bagi pemulihan hubungan bilateral. Keduanya dianggap masih sangat bergantung pada stabilitas rantai pasok global dan sektor perdagangan meskipun tensi politik sempat meninggi.
“Di tengah kesulitan itulah, kita juga menantikan pertemuan antara Amerika dan Tiongkok yang akan berlangsung 13-15 Mei 2026 yang menjadi harapan baru akan pemulihan hubungan antara Amerika dengan Tiongkok,” ujar Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas.
Nico menjelaskan bahwa sejumlah petinggi korporasi global seperti Elon Musk dan Tim Cook turut dilibatkan dalam delegasi yang dibawa oleh Presiden Donald Trump. Ia juga menyoroti rilis data ekonomi penting lainnya seperti Producer Price Index (PPI) AS yang diperkirakan naik ke level 4,7 hingga 4,9 persen.
Kenaikan inflasi produsen ini berpotensi mendesak Federal Reserve System (The Fed) untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu lebih lama. Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi Eropa diperkirakan bertahan di angka 0,8 persen, sementara Jepang menunjukkan ketahanan dengan kenaikan GDP tahunan di kisaran 1,5 hingga 1,7 persen.
Di tingkat domestik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan otoritas fiskal belum berencana mengaktifkan Bond Stabilization Fund (BSF). Keputusan ini diambil karena kondisi pasar surat utang nasional dianggap masih dalam batas aman dan terkendali tanpa tanda-tanda memasuki fase krisis sistemik.
Pemerintah memilih strategi pengelolaan kas negara dan pemanfaatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas harga obligasi. Langkah tersebut dipandang efektif dalam memelihara kepercayaan investor tanpa harus mengaktifkan mekanisme intervensi khusus yang biasanya digunakan saat terjadi tekanan pasar yang ekstrem.
Terkait pergerakan pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan mengalami penguatan terbatas pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Nico memberikan rekomendasi beberapa saham sektoral yang memiliki prospek teknikal menarik berdasarkan kondisi fundamental terkini.
| Emiten | Harga (Rp) | Support (Rp) | Resistance (Rp) | Target (Rp) |
|---|---|---|---|---|
| PT Vale Indonesia Tbk (INCO) | 6.025 | 5.725 | 6.400 | 6.350 |
| PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) | 2.530 | 2.480 | 2.600 | 2.590 |
| PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) | 324 | 322 | 344 | 340 |