Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan nasional sepanjang tahun 2026 akan tetap berada pada kisaran 8 persen hingga 12 persen.
Penyaluran kredit perbankan menunjukkan tren positif yang ditopang oleh tiga sektor utama, yaitu kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi, dilansir dari Keuangan.
"Pertumbuhan kredit ini didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi," ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (20/5/2026).
Peningkatan tertinggi terjadi pada kredit investasi yang tumbuh sebesar 19,48 persen secara tahunan atau year on year (yoy) pada April 2026. Sementara itu, kredit modal kerja tercatat tumbuh 6,04 persen yoy dan kredit konsumsi mengalami kenaikan sebesar 6,13 persen yoy.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa prospek kredit ke depan masih sangat besar karena didukung oleh fasilitas kredit yang belum ditarik oleh debitur (undisbursed loan) mencapai Rp 2.551,42 triliun, atau setara dengan 22,57 persen dari total plafon kredit yang tersedia.
Kondisi likuiditas perbankan di dalam negeri juga dinilai berada dalam posisi yang memadai, yang tecermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) di level 25,39 persen serta pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 11,39 persen yoy pada April 2026.
"Efisiensi suku bunga perbankan juga dapat ditingkatkan," kata Perry.
Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa suku bunga kredit pada April 2026 berada di level 8,73 persen, sedangkan untuk suku bunga deposito dengan tenor satu bulan tercatat sebesar 4,16 persen.
Bank Indonesia berkomitmen untuk memperkuat implementasi kebijakan makroprudensial yang akomodatif melalui penguatan kebijakan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) dan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna mendorong penyaluran kredit.
Selain itu, sinergi dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus dipererat demi memperbaiki struktur suku bunga serta memastikan ketahanan industri perbankan domestik tetap kokoh di tengah risiko ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan nasional per Maret 2026 berada di angka 25,09 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat aman pada level 2,14 persen secara bruto dan 0,83 persen secara neto.
"Hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, termasuk dampak rambatan berlanjutnya perang di Timur Tengah," ujar Perry.
Bank Indonesia menambahkan bahwa daya tahan industri perbankan ini juga didukung oleh kemampuan membayar dan tingkat profitabilitas sektor korporasi yang terus terjaga dengan baik.