Premi Asuransi Umum dan Reasuransi Kuartal I/2026 Tumbuh Melambat

Premi Asuransi Umum dan Reasuransi Kuartal I/2026 Tumbuh Melambat

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan pertumbuhan premi asuransi umum dan reasuransi sebesar 1,77 persen secara tahunan pada kuartal I/2026 dengan total nilai mencapai Rp41,24 triliun. Dilansir dari Finansial, data yang dirilis pada Selasa (5/5/2026) menunjukkan adanya tren penurunan laju pertumbuhan dibandingkan dua bulan pertama tahun ini.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menjelaskan bahwa meski tetap naik, angka pertumbuhan tersebut lebih rendah dari capaian Januari sebesar 17,92 persen dan Februari senilai 7,41 persen. Kendati demikian, tingkat permodalan industri tetap terjaga di atas batas aman.

“Premi asuransi umum dan reasuransi yang tumbuh sebesar 1,77% YoY dengan nilai sebesar Rp41,24 triliun,” ucap Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK.

Kesehatan finansial sektor ini tercermin dari Risk Based Capital (RBC) yang berada di level 316,32 persen, jauh melampaui ambang batas minimum 120 persen. OJK memproyeksikan industri ini tetap positif melalui penguatan tata kelola dan manajemen risiko yang ketat.

“Industri asuransi umum dan reasuransi secara agregat mencatatkan Risk Based Capital [RBC] sebesar 316,32%,” ucap Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK.

Pihak otoritas menekankan pentingnya keseimbangan antara segmen individu dan kumpulan dalam menghadapi dinamika pasar global yang terus berubah. Prospek jangka panjang diharapkan didukung oleh inovasi produk dan peningkatan literasi asuransi di masyarakat.

“Didukung oleh keseimbangan antara segmen individu dan kumpulan, serta penguatan tata kelola dan manajemen risiko di tengah dinamika pasar dan tantangan global,” sebut Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan menilai fenomena ini sebagai dinamika industri yang wajar dan bukan tanda pelemahan fundamental. Menurutnya, faktor daya beli dan selektivitas perusahaan dalam menyaring risiko turut memengaruhi perolehan premi.

“Aktivitas sektor properti dan korporasi, serta sikap perusahaan asuransi yang semakin selektif dalam underwriting,” ungkap Budi Herawan, Ketua Umum AAUI.

Budi mengingatkan bahwa pencatatan premi dalam industri asuransi umum bersifat akumulatif dan dipengaruhi oleh siklus pembaruan polis korporasi. Oleh karena itu, data kuartal pertama tidak selalu mencerminkan kinerja sepanjang tahun secara merata.

“Dalam industri asuransi umum, produksi premi tidak selalu bergerak merata setiap bulan, terutama untuk polis korporasi, properti, kendaraan bermotor, kredit, proyek, dan lini komersial lainnya,” sebut Budi Herawan, Ketua Umum AAUI.

AAUI memproyeksikan pertumbuhan moderat akan berlanjut hingga semester I/2026 berdasarkan basis kinerja kuat tahun sebelumnya. Pertumbuhan tetap ditargetkan berkualitas melalui pengendalian rasio klaim dan disiplin underwriting yang ketat.

“Namun, arah pertumbuhan pada semester I/2026 akan sangat dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi, pembiayaan, sektor properti, penjualan kendaraan, proyek infrastruktur, perdagangan, serta permintaan proteksi dari sektor korporasi dan ritel,” tegas Budi Herawan, Ketua Umum AAUI.

Strategi untuk memacu pendapatan meliputi perluasan produk pada ekosistem digital dan asuransi bencana. Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe menambahkan pentingnya kolaborasi dengan sektor perbankan dan BUMN.

“Kemudian, memperkuat kolaborasi dengan perbankan, BUMN, dan pelaku ekspor, serta memperbesar penetrasi pada sektor-sektor yang masih bertumbuh seperti perdagangan, logistik, infrastruktur, dan supply chain ecosystem,” kata Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe, Direktur Utama Asuransi Asei.

Fokus perusahaan kini bergeser dari sekadar mengejar volume menjadi pertumbuhan yang menguntungkan. Penggunaan analisis data diharapkan dapat meningkatkan presisi dalam proses seleksi risiko di masa depan.

“Karena dalam kondisi industri yang semakin risk-sensitive, kualitas premi akan menjadi jauh lebih penting dibanding sekadar pertumbuhan nominal premi,” ujar Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe, Direktur Utama Asuransi Asei.

Ketua Umum Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (Kupasi) Azuarini Diah Parwati menyoroti tantangan dari tekanan klaim dan ketidakpastian ekonomi global. Meski begitu, ia meyakini kebutuhan proteksi domestik masih menjadi motor penggerak utama industri.

“Namun, pertumbuhannya diperkirakan lebih moderat karena industri masih menghadapi tekanan eksternal dan cenderung lebih selektif dalam ekspansi bisnis,” pungkas Azuarini Diah Parwati, Ketua Umum Kupasi.

Artikel terkait

Rekomendasi