Sektor Properti Nasional Tumbuh Variatif pada Kuartal I/2026

Sektor Properti Nasional Tumbuh Variatif pada Kuartal I/2026

Sektor properti nasional mencatatkan pertumbuhan variatif pada kuartal I/2026 dengan sub-sektor industri dan logistik menjadi pendorong utama di tengah pemulihan ekonomi makro dalam negeri. Kondisi ini dilaporkan berlangsung stabil seiring realisasi investasi yang mencapai angka positif pada awal tahun, Rabu (6/5/2026).

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan penanaman modal dalam dan luar negeri hampir menyentuh Rp500 triliun pada periode tersebut. Pertumbuhan ini didominasi oleh industri hilir, terutama pada sektor baja dan fasilitas pemurnian atau smelter, sebagaimana dilansir dari Bisnis.

Head of Research and Consulting CBRE Indonesia Anton Sitorus menjelaskan bahwa fondasi makroekonomi domestik menjadi penentu arah gerak pasar properti. Pihaknya memprediksi aktivitas pasar tetap kuat sepanjang tahun seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang terjaga.

"Jadi di BKPM ini kalau kita lihat kan di sini selama triwulan 1/2026, penanaman modal baik dalam negeri maupun luar negeri mencapai hampir sekitar Rp500 triliun ya. Di mana naik antara 6% sampai 9%. Which is good. This is a quite good positive improvement," ujar Anton, Head of Research and Consulting CBRE Indonesia.

Faktor penggerak utama saat ini berasal dari status Indonesia sebagai produsen komoditas energi global yang dibutuhkan pasar internasional. Sektor kendaraan listrik dan pengolahan logam menjadi penopang ketika konsumsi domestik mengalami sedikit pelemahan.

"Ketika konsumsi mungkin agak sedikit melemah, tapi Indonesia saat ini dilihat sebagai salah satu negara penghasil energi, mulai EV, steel, smelter, timah, nikel, dan sebagainya yang saat ini boleh dibilang menjadi salah satu komunitas yang diperlukan dunia. Jadi itulah yang menolong ekonomi kita pada saat ini,” imbuh Anton, Head of Research and Consulting CBRE Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan bertahan di level 5 persen, yang dinilai kompetitif dibandingkan negara besar lainnya. Posisi Indonesia dianggap cukup baik dalam peta persaingan ekonomi global saat ini.

"Kalau kita bandingkan dengan negara-negara lain, negara-negara besar di dunia, India, Arab Emirates, China, Saudi dan sebagainya, ternyata kita itu dalam posisi yang bagus," jelas Anton, Head of Research and Consulting CBRE Indonesia.

Anton juga mengamati tren positif pada pusat perbelanjaan kelas atas yang didorong oleh loyalitas konsumen menengah ke atas. Meskipun demikian, mal kelas menengah bawah masih harus berjuang menghadapi perubahan pola belanja.

"Kalau kita lihat dari okupansi pada teman-teman bisa lihat disini bagaimana mal-mal high-end itu sangat berjaya," imbuh Anton, Head of Research and Consulting CBRE Indonesia.

Pada pasar perkantoran CBD Jakarta, tingkat keterisian mencapai 76,1 persen dengan penyerapan bersih sebesar 21.300 meter persegi. Co-Heads of Office Services CBRE Indonesia Judy Sinurat menyatakan bahwa ketiadaan proyek baru turut membantu penguatan okupansi.

“Di tengah tidak adanya proyek baru yang masuk ke pasar, tingkat penyerapan ruang kantor mencapai sekitar 21.300 meter persegi, sehingga mendorong tingkat hunian menjadi 76,1%,” ujar Judy Sinurat, Co-Heads of Office Services CBRE Indonesia.

Di kawasan Non-CBD, tambahan pasokan baru di Pantai Indah Kapuk sebesar 56.000 meter persegi membuat total stok menjadi 3,4 juta meter persegi. Meskipun ada pasokan besar, penyerapan pasar tetap terjaga di angka 22.800 meter persegi.

“Terdapat satu proyek baru di kawasan PIK menambah pasokan sekitar 56.000 meter persegi. Sementara itu, tingkat penyerapan pasar tetap sehat di kisaran 22.800 meter persegi dengan tingkat hunian keseluruhan mencapai 72,9%” jelas Albert, Perwakilan CBRE Indonesia.

Sektor lahan industri di Jabodetabek mencatatkan penyerapan hingga 86 hektare dengan tingkat hunian mencapai 90,8 persen. Ivana Susilo mengonfirmasi bahwa koridor timur Jakarta, khususnya Bekasi dan Karawang, tetap menjadi kontributor terbesar.

“Tingkat hunian sekitar 90,8% didorong oleh aktivitas di koridor Timur Jakarta. Tren ini turut memberikan kontribusi signifikan terhadap permintaan selama periode ini,” ujar Ivana Susilo, Head of Capital Markets and Industrial Services CBRE Indonesia.

Tabel Kinerja Sub-Sektor Properti Kuartal I/2026
Sub-SektorTingkat OkupansiHarga Sewa/Lahan (Rata-rata)
Perkantoran CBD76,1%Relokasi ke Grade A/Premium
Perkantoran Non-CBD72,9%Rp112.700 per sqm/bulan
Kawasan Industri90,8%Rp2,5 juta per meter persegi
Logistik Modern97,9%Rp81.200 per sqm/bulan
Pusat Perbelanjaan86,0%Rp327.500 per sqm/bulan (High-end)

Artikel terkait

Rekomendasi