PT Bank Mandiri Tbk mencatat perlambatan pertumbuhan simpanan ritel pada segmen masyarakat kelas menengah bawah akibat tekanan biaya hidup serta ketidakpastian ekonomi global yang masih terasa pada awal tahun 2026.
Kondisi perlambatan simpanan ritel tersebut dilaporkan terjadi hingga Maret 2026, di mana pertumbuhannya berada di atas kisaran 3 persen secara tahunan sebagaimana dilansir dari Keuangan.
Head of Deposit Product Management Bank Mandiri, Mega Ekaputri Pujianto menjelaskan bahwa faktor pemenuhan kebutuhan sehari-hari menjadi alasan utama dari tren melambatnya dana simpanan pada segmen masyarakat tersebut.
"Sebagian masyarakat memang masih menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi global," ujar Mega Ekaputri Pujianto, Head of Deposit Product Management Bank Mandiri.
Pihak perbankan melihat indikasi positif dari pergerakan arus kas dan aktivitas transaksi nasabah di beberapa sektor usaha yang menjadi sinyal awal pemulihan pengumpulan dana masyarakat.
"Meski segmen kelas menengah masih menghadapi tekanan, peluang pemulihan tetap terbuka seiring meningkatnya optimisme ekonomi dan penciptaan lapangan kerja," kata Mega Ekaputri Pujianto, Head of Deposit Product Management Bank Mandiri.
Target pertumbuhan simpanan masyarakat diproyeksikan mampu menyentuh angka 8 persen hingga 10 persen pada akhir tahun 2026 dengan dukungan stabilisasi inflasi dan penguatan konsumsi.
Strategi untuk mempertahankan dana murah atau current account savings account dilakukan melalui optimalisasi aplikasi Livin’ by Mandiri, akuisisi nasabah payroll, sektor UMKM, serta penyediaan program loyalitas.
"Dengan strategi tersebut, kami berharap penghimpunan dana murah atau CASA dapat terus tumbuh sehat dan berkelanjutan," kata Mega Ekaputri Pujianto, Head of Deposit Product Management Bank Mandiri.