Bisnis.com, JAKARTA — Laju pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan mulai kehilangan akselerasi pada kuartal I/2026, meski ditopang momentum Ramadan dan Lebaran. Perlambatan ini memunculkan sinyal bahwa belanja masyarakat, khususnya konsumsi non-primer, mulai tertahan di tengah kenaikan biaya perjalanan dan perubahan pola konsumsi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04% secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal I/2026.
Angka tersebut masih berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61%, tetapi melambat dibandingkan kuartal IV/2025 sebesar 8,98% maupun kuartal I/2025 yang mencapai 9,01%.
Melihat lebih dalam, komponen pergudangan dan jasa penunjang angkutan, pos, dan kurir tumbuh 8,53% pada kuartal I/2026.
Sementara dari sisi transportasi, angkutan rel terkontraksi -1,32% YoY, angkutan darat tumbuh 10,09%, angkutan laut tumbuh 1,19%, ASDP naik 7,32%, serta angkutan udara tumbuh sebesar 2,14%.
Meski demikian, perlambatan pada periode Lebaran dinilai menjadi sinyal bahwa dorongan musiman tidak lagi sekuat sebelumnya. Apalagi, sektor transportasi dan pergudangan selama beberapa tahun terakhir cenderung mencatat pertumbuhan tinggi seiring pemulihan mobilitas pascapandemi Covid-19.
Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, perlambatan ke level 8,04% layak dicermati lebih dalam karena terjadi pada kuartal yang biasanya menjadi puncak aktivitas transportasi dan logistik.
Dalam kondisi normal, periode ini hampir selalu jadi puncak untuk subsektor angkutan penumpang dan logistik.
“Jadi ketika pertumbuhannya justru lebih rendah dibanding tahun lalu, itu memberi sinyal bahwa dorongan musiman mulai tidak sekuat sebelumnya,” ujarnya kepada Bisnis.
Menurutnya, konsumsi rumah tangga memang masih tumbuh solid di kisaran 5,5%, tetapi struktur pengeluarannya mulai berubah. Belanja masyarakat, khususnya kelompok menengah, mulai lebih selektif terhadap pengeluaran non-esensial seperti perjalanan dan wisata.
“Bukan berarti konsumsi turun drastis, tapi ada pergeseran prioritas. Pengeluaran lebih difokuskan ke kebutuhan utama, sementara perjalanan yang tidak mendesak mulai dikurangi,” katanya.
Yusuf menambahkan kenaikan tarif transportasi dan harga energi mulai menekan ruang konsumsi rumah tangga. Kenaikan biaya perjalanan membuat masyarakat menahan belanja lain sehingga efeknya mulai terasa pada sektor transportasi.
“Ketika biaya perjalanan naik, ruang untuk belanja lain otomatis menyempit,” ujarnya.
Dia mengingatkan perlambatan permintaan transportasi dapat menimbulkan efek berantai terhadap sektor lain seperti perdagangan, pariwisata, hingga distribusi barang apabila tekanan biaya terus berlangsung.
Sementara itu, Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menilai perlambatan sektor transportasi dan pergudangan masih tergolong wajar karena dipengaruhi normalisasi aktivitas distribusi setelah akhir tahun serta melemahnya ekspor secara kuartalan.
Meski demikian, pertumbuhan tinggi belum otomatis menunjukkan efisiensi logistik membaik. Menurutnya, kenaikan aktivitas distribusi belum tentu diikuti penurunan biaya logistik.
Setijadi menilai kenaikan harga bahan bakar minyak menjadi salah satu tekanan utama bagi industri logistik karena BBM merupakan komponen besar biaya operasional transportasi.
“Kenaikan harga BBM dapat menekan margin perusahaan logistik atau mendorong penyesuaian tarif kepada pelanggan,” ujarnya.
Dalam kondisi tersebut, perusahaan logistik cenderung lebih selektif melakukan ekspansi armada, gudang, maupun pembukaan rute baru.
SCI memperkirakan prospek sektor transportasi dan pergudangan pada kuartal II/2026 masih positif, meski cenderung moderat. Sementara itu, ALFI memperkirakan kinerja industri logistik pada kuartal II/2026 justru sedikit menurun dibandingkan kuartal pertama akibat eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang berpotensi mengganggu rantai pasok global.