Bank Indonesia mencatatkan posisi uang primer (M0) adjusted sebesar Rp2.232,2 triliun pada April 2026, yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 14,3 persen secara tahunan (YoY). Capaian ini dilaporkan oleh otoritas moneter pada Jumat (8/5/2026) sebagai bagian dari pemantauan likuiditas perekonomian nasional.
Data yang dilansir dari Finansial menunjukkan bahwa laju kenaikan tersebut mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pada periode Maret 2026, pertumbuhan uang primer tercatat mampu menyentuh angka 16,8 persen secara tahunan.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, merinci komponen yang memengaruhi pergerakan angka tersebut. Faktor utama berasal dari pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 21,6 persen YoY serta uang kartal yang diedarkan sebesar 14,6 persen YoY.
"Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 21,6% YoY dan uang kartal yang diedarkan sebesar 14,6% YoY," ungkap Denny dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Secara kumulatif sepanjang tahun berjalan, jumlah uang primer yang disesuaikan menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan data operasional, posisi M0 adjusted menyusut dari angka Rp2.367,8 triliun pada Desember 2025 menjadi Rp2.232,2 triliun hingga akhir April 2026.
Uang primer didefinisikan sebagai uang kartal di masyarakat ditambah simpanan giro bank umum yang ditempatkan di Bank Indonesia. Adapun status adjusted mengindikasikan bahwa data tersebut telah mengisolasi dampak penurunan giro akibat pemberian insentif likuiditas.
Berdasarkan faktor pengaruhnya, perhitungan uang primer ini telah mempertimbangkan aspek pengendalian moneter. Sebagai pembanding, pada September 2025, komponen uang primer meliputi Rp1.200 triliun uang kartal dan Rp923,1 triliun giro bank umum di BI adjusted.
Sektor swasta juga memiliki andil dalam struktur tersebut melalui giro sebesar Rp3,86 triliun. Selain itu, terdapat surat berharga yang diterbitkan BI senilai Rp25,3 triliun yang dimiliki pihak swasta, mencakup Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI), dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI).