Petugas Kebersihan DKI Jakarta Desak Pengadaan Gerobak Sampah Terpilah

Petugas Kebersihan DKI Jakarta Desak Pengadaan Gerobak Sampah Terpilah

Ketiadaan infrastruktur pengangkutan yang memadai menghambat pelaksanaan kebijakan wajib pilah sampah rumah tangga oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sejumlah petugas kebersihan di lapangan mendesak pengadaan gerobak khusus agar sampah yang telah dipisahkan warga tidak kembali tercampur saat proses pengangkutan berlangsung.

Kebutuhan fasilitas pemisahan pada kendaraan angkut dinilai menjadi aspek krusial dalam keberhasilan aturan ini, sebagaimana dilansir dari Megapolitan pada Rabu (13/5/2026). Ridho, seorang petugas pengangkut sampah di wilayah RW Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Jakarta Barat, menyoroti hambatan teknis yang dihadapi petugas saat ini.

"Kalau masalah gerobak sih paling ya sistemnya bener sih, bisa sih pakai gerobak-gerobaknya dipisah gitu. Misalnya gerobak khusus buat sampah rumah tangga (organik) itu sendiri, nanti gerobak yang isinya sampah pilah ya enggak apa-apa dicampur tuh plastik, botol, kardus, kertas semua enggak apa-apa, tapi terpisah," ucap Ridho (27), petugas pengangkut sampah.

Ridho menjelaskan bahwa pemisahan sejak dari sumber pengangkutan akan mempermudah alur kerja di lokasi penampungan. Hal ini bertujuan agar petugas tidak perlu melakukan penyortiran ulang secara manual terhadap tumpukan sampah yang sudah menyatu.

"Nanti yang penting kan kita misahinnya juga lebih gampang gitu daripada nyatu semua sampah warga, karena yang paling bikin repot itu sebetulnya sampah-sampah dapurnya," ungkap Ridho.

Keterbatasan alat angkut di lapangan diakui sebagai alasan utama mengapa sampah warga masih disatukan saat ini. Ridho menyebutkan bahwa petugas tetap mengangkut sampah apa adanya karena kondisi fasilitas pendukung yang belum tersedia.

"Masih nyampur, masih nyampur semua posisinya si sampahnya belum kepilah. Jadi kita ngangkut mah ngangkut aja dari tong sampah karena kan tong sampahnya tong sampah punya masing-masing ya di rumah. Bahkan kadang ada yang enggak punya tong sampah. Jadinya ya nyampur aja," ungkap Ridho.

Meskipun demikian, petugas melakukan pemilahan manual setibanya di Lokasi Penampungan Sementara (LPS). Sampah-sampah yang memiliki nilai guna seperti plastik dan kardus akan dipisahkan dari sampah sisa lainnya.

"Pas sampai sini, di LPS baru kita pilah gitu. Misalnya mana yang botol-botol plastik segala macam, kita pilahin, kita pisahin, terus yang kardus-kardus bekas gitu-gitulah itu yang masih bisa dipilah ya kita pilah," kata Ridho.

Ridho mengungkapkan harapannya agar sistem pengelolaan sampah di Jakarta bisa mengalami perbaikan signifikan di masa mendatang. Ia menginginkan keteraturan yang lebih baik agar kebersihan kota dapat terjaga secara maksimal.

"Harapannya ya semoga Jakarta bisa lebih bersih lah gitu urusan sampahnya bisa lebih teratur kayak di luar negeri gitu biar nggak berantakan terus sampahnya bisa lebih rapi dan lebih terjaga kebersihannya, itu aja sih," tutup Ridho.

Pernyataan serupa disampaikan oleh Ardi, personel Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) di Grogol Petamburan. Ia menekankan pentingnya edukasi warga yang dibarengi dengan penyediaan sarana penampungan khusus di lingkungan masing-masing RW.

"Harapannya, sih kalau memang ada di warga-warga sendiri, di RW masing-masing itu disediakan gerobak-gerobak atau tong sampah untuk khusus sampah pilah. Jadi warga nanti diedukasi untuk nih loh dari rumah sampah yang mana yang bakal dimasukkan ke tong mana gitu, sampah kering, sampah basah, dan sampah plastik," kata Ardi (35), petugas PPSU.

Selain sarana di tingkat warga, Ardi menyarankan pengadaan gerobak pilah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Fasilitas tersebut dianggap akan sangat membantu meringankan beban kerja para petugas pengangkut sampah tingkat lingkungan.

"Kalau untuk di TPS sendiri ya kalau memang perlu diadakan gerobak untuk pemilahan, kayak gitu. Jadi lebih memudahkan tukang-tukang sampah RW untuk dipisahkan," sambungnya.

Penataan area kerja di lokasi penampungan juga menjadi poin yang disorot oleh Ardi untuk meningkatkan efisiensi kerja. Ia mengusulkan adanya pembagian zona atau titik penampungan yang spesifik berdasarkan jenis material sampah.

"Terus buat kitanya juga nih di LPS juga kalau bisa dikasih spot-spotnya lah gitu tempat-tempat penampungan sementaranya. Misalnya di sebelah sini itu untuk sampah organik, di sebelah sini untuk botol plastik segala macam kayak gitu-gitu jadi milahnya tuh udah ada tempatnya sendiri semua jadi lebih nyaman lebih enak gitu," tuturnya.

Ardi menambahkan bahwa selama ini tim PPSU tetap berupaya menyisihkan sampah bernilai ekonomis untuk dikirim ke bank sampah. Sementara itu, sampah organik atau sampah basah akan diarahkan untuk proses pengolahan lebih lanjut.

"Nanti pada saat dibuang ke TPS, itu nanti kita ambil sampah-sampah plastik, botol, nah terus kayak kardus atau apa tuh kita pisahkan. Kita pisahkan, kita masukin karung, nanti sampai kelurahan kita masukin pada tempatnya yang botol-botol plastik, terus kardus. Kan kita juga di kantor kita memang ada bank sampah. Nah, sampah-sampah basah yang nanti kita bakal olah menjadi maggot," jelas Ardi.

Artikel terkait

Rekomendasi