PGAS Amankan Pasokan Gas Domestik dan LNG untuk Jaga Fleksibilitas Energi

PGAS Amankan Pasokan Gas Domestik dan LNG untuk Jaga Fleksibilitas Energi

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) resmi memperkuat pasokan gas pipa domestik melalui penandatanganan Amandemen Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG). Perpanjangan kontrak pasokan gas bumi ini berasal dari Wilayah Kerja (WK) Corridor untuk memenuhi kebutuhan Bahan Bakar Gas (BBG) dan jaringan gas rumah tangga (jargas).

Dilansir dari Investasi, PGAS juga menyepakati Perubahan dan Pernyataan Kembali PJBG untuk perpanjangan kontrak pasokan gas bumi dari Husky-CNOOC Madura Limited (HCML). Langkah strategis ini dilengkapi dengan kesepakatan Key Terms bersama Medco E&P Sakakemang untuk pembelian pasokan gas bumi dari WK Sakakemang.

Guna memperkokoh fleksibilitas penyaluran berbasis Liquefied Natural Gas (LNG), PGAS bersama Pertamina dan mitra strategis menandatangani Head of Agreement (HoA) LNG South Hub, HoA LNG North Hub, serta HoA pembelian LNG Abadi Masela.

Dalam kerja sama LNG Abadi Masela, PGAS memegang peran sebagai pembeli domestik. Peran ini berfungsi mempercepat proyek Abadi LNG menuju Keputusan Investasi Akhir, sekaligus menciptakan sinergi internal Holding Migas Pertamina dengan Pertamina Hulu Energi (PHE) di sisi hulu dan PGAS di sisi hilir.

Corporate Secretary PGAS, Fajriyah Usman, memaparkan bahwa integrasi pasokan gas pipa dan LNG domestik menjadi langkah penting. Upaya tersebut bertujuan memastikan keandalan penyaluran energi bagi para pelanggan di berbagai sektor industri.

Secara mendasar, PGAS konsisten memperkuat manajemen pasokan gas bumi terpadu memanfaatkan kombinasi pasokan gas pipa dan LNG dalam negeri.

"Strategi ini menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam menjaga keberlanjutan penyaluran energi gas bumi sekaligus meningkatkan fleksibilitas pemenuhan kebutuhan pelanggan di berbagai wilayah," ujar Fajriyah dalam keterbukaan informasi, beberapa hari yang lalu.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai kepastian ketersediaan pasokan gas sangat krusial bagi PGAS. Layanan tersebut mencakup kebutuhan berbagai sektor mulai dari industri, komersial, hingga sektor rumah tangga.

Pasokan gas yang berjalan lancar bakal menjaga kesinambungan usaha harian. Dampak positifnya akan terlihat pada pertumbuhan kinerja keuangan perusahaan dalam jangka panjang.

Sektor energi yang menjadi fokus usaha PGAS diproyeksikan tetap stabil dengan potensi pertumbuhan moderat pada tahun 2026. Faktor pendorong utamanya adalah kenaikan permintaan gas industri dan optimalisasi pemanfaatan LNG.

Meskipun demikian, PGAS masih menghadapi tantangan berupa spread harga gas serta regulasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) untuk konsumen industri.

"Kebijakan HGBT dapat menjadi boomerang bagi PGAS jika tidak diimbangi dengan regulasi sektor hulu gas yang adil," kata dia, Selasa (26/5/2026).

Risiko finansial muncul saat harga gas sektor hulu melonjak akibat naiknya biaya produksi, sedangkan PGAS diwajibkan menjual ke industri dengan tarif HGBT yang flat. Kondisi ini berpotensi menekan margin keuntungan jika mekanisme kompensasi dari regulator tidak memadai.

Nafan menambahkan, PGAS perlu mengekspansi bisnis LNG secara masif, meningkatkan efisiensi operasional, serta mempercepat proyek pipa transmisi dan jargas rumah tangga untuk mengoptimalkan kinerja.

Berdasarkan analisis tersebut, Nafan merekomendasikan add untuk saham PGAS dengan target harga mencapai level Rp 2.140 per saham.

Di sisi lain, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memaparkan secara teknikal pergerakan saham PGAS berada pada fase awal uptrend jangka pendek dengan dominasi volume pembelian.

Posisi saham PGAS terpantau bertahan di atas MA20, didukung indikator MACD yang berpeluang goldencross serta penguatan indikator Stochastic.

Herditya memberikan rekomendasi trading buy untuk saham PGAS, menetapkan level support pada Rp 1.820 per saham dan resistance di Rp 1.925 per saham, dengan target harga kisaran Rp 1.940 hingga Rp 1.980 per saham.

Artikel terkait

Rekomendasi