PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatat penghematan energi sebesar 90.502,28 MWh sepanjang tahun 2025 melalui penguatan efisiensi operasional dan pengurangan emisi di seluruh lini bisnis. Capaian ini diumumkan pada Jumat (15/5/2026) sebagai bagian dari dukungan terhadap target Net Zero Emission Indonesia.
Data Laporan Keberlanjutan 2025 menunjukkan lonjakan efisiensi yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 40.058,77 MWh, sebagaimana dilansir dari Money. Langkah optimalisasi ini mencakup proses debottlenecking jalur produksi di Area Ulubelu serta modifikasi katup kontrol di Lumut Balai.
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho menjelaskan bahwa penerapan praktik keberlanjutan secara konsisten menjadi faktor krusial dalam memastikan pengembangan panas bumi yang memiliki daya saing tinggi. Pihaknya berupaya menjaga standar operasional agar tetap selaras dengan prinsip lingkungan dan sosial.
“Pengembangan panas bumi tidak hanya berfokus pada penyediaan energi bersih. PGE juga memastikan seluruh operasional dijalankan secara bertanggung jawab, efisien, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan maupun masyarakat sekitar,” ujar Andi Joko Nugroho, Direktur Operasi PGE.
Pihak manajemen menegaskan bahwa penguatan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) tetap menjadi prioritas utama perusahaan untuk masa mendatang. Implementasi ini diklaim mengacu pada pilar strategis yang telah ditetapkan perseroan.
“Komitmen tersebut dijalankan sejalan dengan empat pilar keberlanjutan PGE, yaitu Nature, Zero Emission, People & Socioeconomics, serta Transformation Catalyst,” ujar Andi Joko Nugroho, Direktur Operasi PGE.
Transparansi dalam pelaporan kinerja keberlanjutan juga menjadi sorotan, di mana laporan perusahaan telah melewati verifikasi lembaga independen AA1000. Standar pelaporan global ini digunakan untuk menjaga akuntabilitas data yang disajikan kepada publik.
“Seluruh implementasi keberlanjutan perseroan dijalankan secara transparan dengan mengacu pada standar pelaporan global,” ujar Andi Joko Nugroho, Direktur Operasi PGE.
Keberhasilan efisiensi ini juga terlihat dari rasio intensitas energi yang turun 10,10 persen menjadi 0,037 MWh/MWh. Sementara itu, intensitas emisi PGE tercatat sebesar 41,12 g CO2e/kWh, jauh di bawah batas maksimal Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia sebesar 100 g CO2e/kWh.
Selain sektor energi, perusahaan memperkuat pengelolaan limbah non-B3 melalui metode 4R yang berhasil mengelola 17 ton limbah pada 2025. Perseroan juga mencatatkan penurunan konsumsi air sebesar 33,31 persen menjadi 262,24 megaliter dibandingkan tahun sebelumnya.
PGE kini mulai merambah pengembangan ekosistem hidrogen hijau melalui proyek Tanjung Sekong Green Terminal di Cilegon. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pemanfaatan panas bumi melampaui sektor ketenagalistrikan konvensional atau beyond electricity.