Platform urun dana atau crowdfunding terus memacu penawaran imbal hasil kompetitif demi menjaga loyalitas investor di tengah tren kenaikan suku bunga Bank Indonesia pada Senin (1/6/2026).
Langkah taktis tersebut diambil oleh industri urun dana agar produk investasi yang ditawarkan tetap menjadi pilihan utama bagi masyarakat, seperti yang dilansir dari Keuangan.
CEO ICX Gunawan menjelaskan bahwa daya tarik instrumen ini terletak pada selisih keuntungan yang ditawarkan kepada para pemodal.
"Imbal hasil penerbit urun dana secara historis berkisar 10%–20%, jauh di atas rata-rata deposito perbankan yang saat ini berada di kisaran 4%–5%. Dengan demikian, yield premium yang ditawarkan tetap signifikan," katanya kepada Kontan, Senin (1/6/2026).
Demi mengantisipasi pergeseran dana investor ke produk perbankan, sejumlah strategi penyesuaian bisnis perlu segera diimplementasikan oleh penyelenggara layanan.
"Adapun selisih keuntungan yang agresif tersebut menjadi kompensasi sepadan bagi investor atas risiko atau risk-adjusted return yang mereka ambil," ucapnya.
Selain mengandalkan pembagian keuntungan dari efek saham, mekanisme penerbitan efek yang bersifat surat utang juga menjadi instrumen andalan platform urun dana saat kondisi suku bunga mengetat.
Pilihan instrumen ini diminati karena menyajikan indikator investasi yang transparan dan dapat diproyeksikan dengan akurat oleh para pelaku pasar modal sejak awal kontrak.
Sejumlah penerbit di platform ICX tercatat sukses menyalurkan keuntungan tinggi, di antaranya PT Fitnessplus Usaha Bersama dengan dividen yield 14,22% per tahun, sektor kuliner PT Santhai Indonesia Gancit sebesar 13,35%, dan PT Bisnis Sama Sama mencapai 15,14%.
Selain pendapatan dividen berkala, para pemodal juga dapat memanfaatkan likuiditas perdagangan di pasar sekunder yang dibuka berkala untuk merealisasikan keuntungan modal, di mana nilai transaksi pasar sekunder ICX sepanjang tahun 2025 telah menembus angka lebih dari Rp 1,5 miliar.