Polisi dan Pemkot Tangerang Selidiki Isu Pocong Jadi-Jadian

Polisi dan Pemkot Tangerang Selidiki Isu Pocong Jadi-Jadian

Aparat kepolisian bersama Pemerintah Kota Tangerang mengusut penyebaran isu teror pocong jadi-jadian yang meresahkan warga di wilayah Ciputat Timur dan sekitarnya pada medio Mei 2026. Isu mistis tersebut dipastikan sebagai informasi bohong yang diduga sengaja diembuskan oleh kelompok kriminal sebagai modus operandi untuk melancarkan aksi perampokan serta pencurian saat masyarakat panik.

Aksi teror tersebut memicu kegaduhan luas setelah sebuah video penangkapan seseorang yang menyamar menjadi pocong viral di media sosial pada Rabu, 20 Mei 2026 dini hari. Merespons situasi yang tidak kondusif ini, jajaran kepolisian dari Polsek Ciputat Timur bersama TNI langsung menggelar patroli gabungan berskala besar guna menyisir sejumlah titik rawan gangguan keamanan.

Kepala Seksi Humas Polresta Tangerang, Ipda Sandro menjelaskan bahwa aparat keamanan kini tengah melacak akun-akun media sosial yang memproduksi dan menyebarkan konten video viral tersebut.

"Orang cuma bikin konten doang biar rame," ujar Ipda Sandro, Kepala Seksi Humas Polresta Tangerang.

Pihak kepolisian menegaskan bahwa penelusuran secara digital tetap berjalan demi menjaga ketertiban umum di tengah masyarakat.

"Makanya saya mau dalami itu, yang nyebarin video itu siapa," tegas Ipda Sandro, Kepala Seksi Humas Polresta Tangerang.

Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah meminta masyarakat untuk menyaring segala informasi supernatural yang beredar luas di platform digital.

"Jadi jangan mudah percaya terhadap informasi yang belum tervalidasi dengan tidak menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya," ungkap Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah, Kapolresta Tangerang.

Di sisi lain, isu ini berkembang semakin liar setelah hotline Polsek Ciputat Timur menerima laporan adanya pocong membawa senjata tajam jenis golok di lapangan sepak bola Jalan Cempaka Raya, Rengas pada Kamis, 21 Mei 2026 sekitar pukul 21.00 WIB.

"Ada seseorang lapor ke hotline, katanya dia menerima informasi dari temannya bahwa 'pocong' lagi beredar di lapangan bola Jalan Cempaka Raya, Rengas, Kecamatan Ciputat Timur," kata Kompol Bambang Askar Sodiq, Kapolsek Ciputat Timur.

Petugas yang mendatangi tempat kejadian perkara tidak menemukan indikasi keberadaan hantu maupun pelaku kriminalitas, sementara nomor pelapor langsung tidak aktif saat dihubungi kembali.

"Laporanya itu dia menyampaikan info katanya dari temannya, bahwa 'pocong' itu modus begal, sudah ada kena bacok walau hanya goresan saja. Itu dia juga katanya temannya, bukan dia sendiri yang mengalami," jelas Kompol Bambang Askar Sodiq, Kapolsek Ciputat Timur.

Warga diimbau melakukan verifikasi ganda terhadap setiap unggahan video pendek yang berpotensi memicu kepanikan massal.

"Jangan menyebar hoax untuk membuat resah masyarakat dan masyarakat juga kami imbau untuk tidak langsung percaya informasi di media sosial. Check dan recheck kembali faktanya," pungkas Kompol Bambang Askar Sodiq, Kapolsek Ciputat Timur.

Dari hasil penyelidikan awal, sosok yang sempat terdokumentasi warga diduga kuat hanyalah pengamen jalanan berkostum hantu yang biasa beroperasi pada malam hari.

"Sampai sejauh ini belum ada indikasi laporan warga mereka membawa sajam," kata Kompol Bambang Askar Sodiq, Kapolsek Ciputat Timur seperti dilansir dari megapolitan.kompas.com.

Narasi tersebut kemudian sengaja ditambahi oleh oknum tertentu hingga memunculkan isu pembegalan bersenjata tajam.

"Jadi hanya isu yang dilempar oleh orang yang tidak bertanggung jawab, diterima oleh masyarakat dan dilebih-lebihkan oleh hal-hal yang membuat gangguan kamtibmas seperti bawa sajam dan lain-lain," jelas Kompol Bambang Askar Sodiq, Kapolsek Ciputat Timur.

Wali Kota Tangerang H. Sachrudin turut meminta warganya agar tetap berpikir rasional dan memperketat pengamanan lingkungan mandiri.

"Tidak ada yang namanya pocong. Kalau ada, saya yang hadapi. Di Kota Tangerang sudah ada Kampung Terang, dan pocong itu takut sama lampu," ujar H. Sachrudin, Wali Kota Tangerang.

Ia mensinyalir ada pihak yang sengaja meraup keuntungan materi atau memanfaatkan kelengahan warga dari situasi ketakutan kolektif ini.

"Yang ada itu ulah orang-orang iseng yang tidak bertanggung jawab. Tujuannya menakut-nakuti warga dan mengambil keuntungan dari situasi. Karena itu, saya minta masyarakat jangan mudah terpancing, jangan mudah takut, dan tetap berpikir rasional," tegas H. Sachrudin, Wali Kota Tangerang.

Pemkot Tangerang menginstruksikan pengaktifan kembali siskamling serta menyediakan layanan aduan kedaruratan terpadu bagi warga.

"Perkuat kembali ronda malam dan Siskamling. Warga harus saling menjaga dan peduli terhadap lingkungan sekitar agar berbagai bentuk gangguan keamanan maupun modus kejahatan bisa pencegah bersama," kata H. Sachrudin, Wali Kota Tangerang.

Masyarakat dapat memanfaatkan saluran komunikasi resmi pemerintah jika menemukan pergerakan kelompok mencurigakan pada malam hari.

"Kalau ada kejadian mencurigakan atau membahayakan, segera laporkan melalui hotline 112, aplikasi LAKSA, maupun kanal pengaduan resmi Pemkot Tangerang. Kita jaga bersama Kota Tangerang agar tetap aman, nyaman, dan kondusif," pungkas H. Sachrudin, Wali Kota Tangerang.

Sosiolog Rakhmat Hidayat menganalisis fenomena ini sebagai bentuk ketakutan sosial perkotaan yang diperbesar oleh algoritma media sosial.

"Dalam masyarakat digital hari ini tantangan terbesarnya bukan hantu tetapi bagaimana masyarakat mengelola ketakutan dan informasi secara rasional," kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog melalui wawancara Kompas.com.

Karakteristik psikologis masyarakat Indonesia yang memiliki kedekatan dengan cerita supernatural membuat narasi mistis seperti ini lebih mudah viral.

"Nah akibatnya ketika ada seseorang memakai kostum pocong di malam hari masyarakat langsung menghubungkannya dengan rasa takut yang sudah tertanam sebelumnya," ujar Rakhmat Hidayat, Sosiolog.

Rumor pengamen jalanan ini kemudian bermutasi menjadi ketakutan kolektif akibat penyebaran visual yang terus-menerus diamplifikasi warganet.

"Awalnya hanya ada pengamen berkostum pocong, lalu berkembang menjadi isu pocong bawa golok, teror pocong, bahkan dikaitkan dengan kriminalitas atau hal gaib," kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog.

Sebagian masyarakat dinilai tetap menikmati sensasi horor ini sebagai bentuk hiburan digital meskipun mengetahui kabar tersebut belum teruji validitasnya.

"Fenomena horor di Indonesia itu sering kali menjadi hiburan, menakutkan tetapi juga menarik untuk diikuti," ujar Rakhmat Hidayat, Sosiolog.

Penyebaran hoaks ini menjadi lebih masif karena karakteristik konten visual di media sosial lebih menitikberatkan pada aspek emosional pemirsa.

"Video pendek yang menampilkan suasana gelap, teriakan warga atau narasi menakutkan itu lebih mudah viral karena memicu emosi," kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog.

Artikel terkait

Rekomendasi