Polisi Tangkap Dua Pelaku Pemukulan Ronald A Sinaga di Menteng

Polisi Tangkap Dua Pelaku Pemukulan Ronald A Sinaga di Menteng

Aparat Polsek Menteng mengamankan dua pria berinisial MRB dan RO yang diduga melakukan pemukulan terhadap Wakil Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ronald A Sinaga, di kantor firma hukum MPP, Jakarta Pusat, pada Senin (4/5/2026). Insiden kekerasan ini terjadi saat korban tengah mendampingi sejumlah karyawan perusahaan swasta melakukan audiensi terkait persoalan gaji.

Dilansir dari Megapolitan, peristiwa bermula ketika Ronald hadir bersama 15 karyawan PT SKS untuk menuntut hak upah yang diduga belum dibayarkan oleh pihak firma hukum tersebut. Situasi yang awalnya kondusif berubah memanas ketika sekelompok orang tidak dikenal tiba-tiba muncul dan melakukan intimidasi terhadap rombongan korban di lokasi kejadian.

Ronald A Sinaga menjelaskan bahwa kedatangannya ke kantor tersebut bertujuan untuk melakukan mediasi terkait dana perusahaan senilai miliaran rupiah. Ia diminta membantu oleh para karyawan karena memiliki hubungan profesional sebelumnya dengan pimpinan kantor hukum yang bersangkutan.

"Mendampingi untuk persoalan gaji karyawan dan pertanggungjawaban uang perusahaan PT SKS sebesar Rp 9 miliar," ujar Ronald saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (5/5/2026).

Meskipun berniat melakukan mediasi secara damai, Ronald menyebut pihak lawan belum memberikan kejelasan mengenai status gaji para karyawan tersebut. Hingga saat ini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak firma hukum terkait penahanan dana yang dimaksud.

"(Gaji) Tidak terbayarkan. Antara tertahan atau bagaimana kita belum tahu pasti karena belum ada klarifikasi dari mereka (MPP)," jelasnya.

Ketegangan memuncak di lantai 4 gedung saat tiga orang pria yang mengaku petugas keamanan meminta massa untuk keluar. Perkelahian fisik akhirnya pecah meskipun saat itu terdapat aparat keamanan dari unsur kepolisian dan TNI di lokasi kejadian.

"Karena pimpinan kantor hukum MPP ini adalah mantan partner saya tahun lalu. Dan saya diminta bantu mediasi," ungkap Ronald.

Pihak korban menyayangkan aksi kekerasan tersebut tetap terjadi di bawah pengawasan petugas. Ia menyebutkan bahwa para pelaku sempat dipukul mundur namun kembali lagi untuk melakukan serangan fisik.

"Dipukul mundur maksudnya dikawal turun melalui lift, entah diusir atau dikawal sampai lobi gedung," kata Ronald.

Dalam keterangan lebih lanjut, Ronald memaparkan kronologi singkat saat dua orang pelaku melayangkan pukulan ke arah wajahnya. Insiden tersebut berlangsung sangat cepat di tengah percekcokan yang kembali terjadi.

"Terjadilah pemukulan seperti di video, 2 orang yang mukul," tuturnya.

Ronald menegaskan bahwa tindakan kekerasan ini dilakukan secara berani meskipun ada saksi dari pihak berwajib. Ia merasa heran dengan tindakan para pelaku yang mengabaikan keberadaan aparat di sana.

"Di depan anggota Polsek Menteng dan Babinsa, mereka berani melakukan kekerasan," katanya.

Akibat serangan tersebut, Ronald mengalami luka pada bagian pelipis mata dan harus menjalani perawatan medis di RSCM. Ia menyatakan bahwa luka tersebut memerlukan tindakan jahit karena pendarahan masih terjadi hingga keesokan harinya.

"Semalam tidak jahit di RSCM setelah visum karena langsung balik ke Polsek untuk pemeriksaan," tutur Ronald.

Korban memastikan akan memproses kasus ini secara hukum dan telah menyerahkan bukti-bukti kepada penyidik. Ronald juga membantah tudingan mengenai adanya kalimat rasial yang dilontarkannya sebelum pemukulan terjadi.

"Semalam sebelum pulang kasa bersih. Pagi ini bangun kasa sudah merah semua. Ini mau ke RS lagi untuk jahit pelipis mata," tambahnya.

Kapolsek Menteng, AKBP Braiel Arnold Rondonuwu, mengonfirmasi bahwa kedua terduga pelaku telah dibawa ke kantor polisi untuk diproses lebih lanjut. Petugas juga telah meminta keterangan dari korban serta dua orang saksi yang melihat langsung kejadian tersebut.

"Terduga pelaku sebanyak dua orang sudah kami amankan di Polsek untuk diproses lanjut," kata Braiel.

Braiel menambahkan bahwa pihak kepolisian sebenarnya sudah berupaya melakukan mediasi ketika audiensi tidak dapat bertemu dengan pimpinan firma hukum. Namun, kehadiran kelompok tidak dikenal justru memicu keributan.

"Sampai dengan muncul sekelompok orang yang tidak dikenal dan tanpa alasan yang jelas melakukan intimidasi dan menghalang-halangi proses audiensi," jelas Braiel.

Di sisi lain, Ronald membantah keras klaim pelaku yang menyebut dirinya melakukan provokasi fisik atau rasial terlebih dahulu. Ia mempersilakan pihak kepolisian untuk membuktikan kebenaran melalui prosedur hukum yang berlaku.

"Tidak ada pernyataan rasial dan tidak ada pemukulan duluan dari saya. Kalau saya pukul duluan, silakan proses hukum," ujar Ronald lewat pesan singkat kepada Kompas.com, Selasa.

Ronald menekankan bahwa komposisi tim pendukungnya di lokasi sangat beragam, sehingga tuduhan rasial dianggap tidak masuk akal. Perselisihan tersebut murni berakar dari keberatan karyawan untuk meninggalkan gedung sebelum audiensi selesai.

"Pernyataan rasial tidak mungkin ada. Sopir saya ada di lokasi dan dari suku yang sama dengan mereka," tambahnya.

Ia menutup keterangannya dengan menegaskan bahwa fokus utama rombongannya tetap pada urusan hak gaji yang belum dituntaskan. Ronald menyatakan tidak melarang pengamanan gedung selama hak-hak karyawan diakui.

"Kita tidak larang mereka mengamankan kantor, tetapi teman-teman SKS keberatan meninggalkan lantai 4 gedung," tambah Ronald.

Artikel terkait

Rekomendasi