Pemerintah mulai mematangkan pengembangan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai solusi alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk kebutuhan nasional. Langkah strategis ini diambil karena ketersediaan bahan baku CNG di dalam negeri jauh lebih melimpah sehingga dapat menekan ketergantungan pada komoditas impor.
Munculnya wacana transisi energi ini memicu perhatian publik terkait perbandingan antara CNG dan gas melon yang selama ini digunakan masyarakat. Dilansir dari Suara, aspek perbedaan bahan baku hingga skema harga menjadi poin utama yang paling banyak dipertanyakan dalam rencana implementasi tersebut.
Meskipun keduanya berfungsi sebagai bahan bakar gas, CNG dan LPG memiliki komposisi kimia yang sangat berbeda. CNG mayoritas terdiri dari metana, sementara LPG merupakan campuran dari propana dan butana yang diproses hingga berbentuk cair.
Metode penyimpanan kedua jenis gas ini juga memiliki perbedaan teknis yang signifikan. CNG disimpan dalam bentuk gas dengan tekanan yang sangat tinggi di dalam tabung khusus, sedangkan LPG disimpan dalam fase cair agar proses distribusi ke rumah tangga menjadi lebih praktis.
Dari sisi dampak lingkungan, CNG diklaim jauh lebih bersih karena menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan LPG. Hal ini menjadikan CNG sebagai opsi yang lebih ramah lingkungan untuk penggunaan jangka panjang baik di sektor domestik maupun transportasi.
Proyeksi Harga dan Efisiensi Anggaran Negara
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan sinyal positif terkait nilai ekonomis dari penggunaan gas alam terkompresi ini. Menurutnya, harga CNG memiliki peluang besar untuk dibanderol lebih murah dibandingkan LPG karena sumbernya berasal dari sumur gas domestik.
Ketergantungan LPG terhadap pasar internasional selama ini menjadi beban tersendiri bagi anggaran negara. Dengan beralih ke CNG, pemerintah dapat memangkas biaya transportasi dan distribusi secara signifikan karena jalur pasokannya berada di wilayah kedaulatan Indonesia.
"Doakan seperti itu ya (lebih murah dari LPG). Minimal sama (harganya)," tutur Bahlil ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta pada Rabu, 6 Mei 2026.Pemanfaatan CNG secara masif juga diproyeksikan mampu menyelamatkan devisa negara hingga ratusan triliun rupiah melalui penghematan impor. Selain itu, pemerintah menilai skema ini dapat membantu menyehatkan postur subsidi energi yang selama ini dialokasikan untuk gas tabung 3 kilogram.
Saat ini, transisi menuju penggunaan CNG masih dalam koridor pengembangan dan uji coba teknis. Pemerintah terus melakukan kajian mendalam terkait standarisasi teknologi tabung, mekanisme distribusi yang aman, serta skema subsidi agar tetap terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.