Nilai tukar rupiah diprediksi mengalami tekanan hebat hingga akhir Mei 2026 mendatang. Dilansir dari Suara, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi meramalkan mata uang Garuda berpotensi merosot hingga menyentuh level Rp22.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kondisi geopolitik global yang belum stabil serta lonjakan indeks dolar AS secara signifikan menjadi faktor utama yang memicu pelemahan ini. Hingga saat ini, belum terlihat adanya sentimen positif yang cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah.
Ibrahim menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, rupiah kemungkinan besar akan melewati level psikologis tertentu sebelum jatuh lebih dalam. Pergerakan pasar pada bulan Mei ini akan menjadi indikator krusial bagi stabilitas nilai tukar nasional.
"Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp 18 ribu akan tembus. Saya kalau seandainya Rp 18 ribu tembus di bulan Mei ini ada kemungkinan besar rupiah itu akan menembus level Rp 22 ribu," ujar Ibrahim kepada wartawan pada Jumat, 15 Mei 2026.
Menurut analisisnya, kebijakan dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menjadi instrumen tunggal yang dapat meredam laju pelemahan tersebut. Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah penyesuaian suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Dilema Kenaikan BI Rate
Ibrahim memproyeksikan Bank Indonesia bakal menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur mendatang. Kenaikan tersebut diperkirakan berada di kisaran 25 hingga 50 basis poin guna menjaga stabilitas mata uang.
"Ya bisa saja 25 basis poin sampai 50 basis poin, tujuannya adalah untuk menestabilkan mata uang rupiah," kata Ibrahim.
Meski demikian, langkah ini menempatkan otoritas moneter pada posisi yang sulit. Kenaikan suku bunga berisiko menekan daya beli masyarakat yang pada akhirnya dapat mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional.
"Memang ya dalam kondisi saat ini sangat sulit Bank Indonesia apakah tetap mempertahankan suku bunga atau menaikkan suku bunga. Tapi ada kemungkinan besar dalam bulan Mei ini pertemuan Bank Sentral Indonesia akan menaikkan suku bunga tujuannya adalah untuk menestabilkan mata uang rupiah," tutur Ibrahim.
Walaupun bayang-bayang pelemahan terus menghantui, Ibrahim menilai fundamen ekonomi Indonesia saat ini masih tergolong solid. Hal ini terlihat dari kepemilikan aset negara yang masih didominasi oleh investor dalam negeri.
"Walaupun rupiah terus mengalami pelemahan tetapi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup bagus, karena 90 persen ya obligasi yang membeli adalah domestik," kata Ibrahim.