Rupiah Berpotensi Tembus Rp 20.000 per Dollar AS Akibat Tekanan Eksternal

Rupiah Berpotensi Tembus Rp 20.000 per Dollar AS Akibat Tekanan Eksternal

Nilai tukar rupiah diproyeksikan berpotensi menembus level Rp 20.000 per dollar AS apabila tren pelemahan terus berlangsung tanpa adanya langkah intervensi yang efektif. Berdasarkan data penutupan perdagangan pasar spot pada Senin (18/5/2026) yang dilansir dari Money, mata uang Garuda berada di posisi Rp 17.667 per dollar AS.

Proyeksi tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira. Menurut analisisnya, kombinasi tekanan eksternal global serta kondisi fundamental ekonomi domestik menjadi pemicu utama fluktuasi nilai tukar saat ini.

“Kalau hari ini kurs sekitar Rp 17.600 dan pelemahannya rata-rata 0,5 persen per hari, maka pada 9 Juni 2026 rupiah bisa tembus di atas Rp 20.000 per dollar AS,” ujar Bhima kepada Kompas.com, Senin (18/5/2026).

Bhima menjelaskan bahwa ketidakstabilan kurs ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan pelaku usaha. Dampak nyata yang membayangi industri meliputi pembengkakan biaya produksi, potensi arus modal keluar, hingga risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Siapa yang mau berinvestasi dalam kondisi ekonomi yang dianggap shaky atau sangat fluktuatif seperti sekarang?” kata Bhima.

Situasi makroekonomi yang penuh tantangan ini dinilai mengirimkan sinyal negatif bagi para investor. Para pelaku usaha kini dihadapkan pada ketidakpastian biaya logistik dan pengadaan komponen impor.

“Pelemahan rupiah itu mengirim sinyal bahwa kondisi makroekonomi sedang penuh tantangan,” ujar Bhima.

Kekhawatiran sektor industri terus meluas seiring meningkatnya biaya operasional dasar. Lonjakan biaya ini mencakup pengadaan mesin pabrik hingga bahan baku impor.

“Semakin melemah nilai tukar, pelaku usaha juga mulai khawatir terhadap kenaikan biaya impor bahan baku, impor mesin industri, sampai biaya logistik,” lanjut Bhima.

Dampak pengetatan ini turut memicu munculnya risiko tambahan bagi penanaman modal jangka panjang. Investor cenderung menghitung ulang rencana ekspansi fisik di Indonesia akibat pembengkakan biaya pinjaman.

“Investor jadi mempertimbangkan ulang untuk masuk ke Indonesia karena biaya investasinya lebih mahal. Risiko kurs meningkat, bunga obligasi lebih tinggi, dan biaya pinjaman perbankan juga berpotensi naik,” katanya.

Perubahan stabilitas ini memaksa pelaku usaha mengubah horizon perencanaan bisnis mereka. Strategi jangka pendek kini lebih dipilih guna menghindari kerugian akibat fluktuasi nilai tukar yang tajam.

“Kalau kondisi kurs terus berubah-ubah seperti sekarang, rencana bisnis investor juga ikut berubah. Akibatnya ada potensi capital flight, investor yang tadinya mau masuk akhirnya batal, sementara industri yang sudah ada bisa menunda ekspansi atau bahkan relokasi,” ucap Bhima.

Dampak lanjutan dari pelemahan kurs ini juga diperkirakan akan menyentuh masyarakat luas. Perubahan strategi bisnis korporasi berisiko memicu kenaikan harga barang konsumen dalam beberapa bulan mendatang.

“Pelaku usaha pasti melihat pelemahan kurs akan memengaruhi daya beli dan inflasi, sehingga mereka mulai merombak strategi bisnisnya di Indonesia,” katanya.

Selain itu, sektor pembiayaan korporasi melalui pasar modal juga menghadapi hambatan besar. Emiten yang ingin merilis saham baru terganjal oleh kondisi bursa yang ikut tertekan.

“Jalur yang paling terasa dampaknya adalah pembiayaan. Jadi lebih mahal dan lebih sulit. Kalaupun perusahaan tetap ekspansi, mereka harus membayar biaya yang jauh lebih tinggi,” tegasnya.

Di tengah tekanan nilai tukar, sektor riil domestik menunjukkan kinerja yang berbeda. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal I 2026, ditopang oleh tingginya konsumsi domestik selama Ramadhan dan Lebaran.

Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa realisasi pertumbuhan tersebut menempatkan Indonesia di posisi atas di antara negara G20. Capaian ini melampaui pertumbuhan ekonomi beberapa negara mitra dagang utama.

“Tadi pengumuman BPS di kuartal pertama baik, kita pertumbuhannya di 5,61. Dan pertumbuhan ini adalah di antara negara G-20 tertinggi. Jadi kita di atas China, di atas Singapura, Korea Selatan, Arab, bahkan Amerika,” kata Airlangga di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026) lalu.

Artikel terkait

Rekomendasi