Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya kontribusi besar sektor swasta dalam memicu pertumbuhan ekonomi Indonesia agar mampu bersaing di pasar global saat berpidato di Gedung Nusantara DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta pada Rabu (20/5/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Paripurna DPR RI Ke-19 yang membahas Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2027, sebagaimana dilansir dari Money.
Kepala Negara mengapresiasi kinerja PT Mayora Indah Tbk (Mayora Group) yang sukses memasarkan produk permen Kopiko hingga menembus lebih dari 100 negara berkat promosi yang kuat.
"Mayora berhasil memasarkan Kopiko di lebih dari 100 negara karena mereka memiliki brand ambassador, Presidennya juga mendorong minum kopi di mana-mana," kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.
Seusai kelakar tersebut, pemimpin negara tersebut meminta izin kepada Ketua DPR RI Puan Maharani untuk meminum kopi yang sudah disediakan oleh pihak panitia rapat.
"Kopiko seneng Presidennya peminum kopi," lanjut Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.
Selain sektor industri kopi, apresiasi juga diberikan kepada PT Indofood Sukses Makmur atas keberhasilan produk mi instan Indomie yang telah meluas ke pasar Eropa hingga Afrika.
"Bagaimanapun perusahaan seperti Indofood sudah dipasarkan di seluruh dunia. Kalau saya ke Eropa, banyak orang Eropa nyarinya Indomie," ujar Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.
Mantan Danjen Kopassus itu menambahkan bahwa popularitas komoditas pangan tersebut bahkan membuat masyarakat di beberapa negara kawasan Afrika mengklaimnya sebagai produk lokal mereka.
"Bahkan banyak negara Afrika menganggap itu produk mereka," lanjut Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.
Melalui pemaparan tersebut, ditegaskan bahwa pemerintah berkomitmen penuh untuk terus memberikan dukungan terhadap ekspansi perusahaan swasta domestik yang memiliki daya saing unggul.
Langkah penegasan ini diambil demi menepis anggapan bahwa otoritas negara bakal memonopoli atau mengambil alih seluruh lini aktivitas perekonomian di tanah air.
Arah kebijakan strategis yang diinginkan adalah memosisikan pihak swasta agar mengemban fungsi yang jauh lebih signifikan namun tetap berjalan di atas koridor regulasi yang sah.
"Tapi sebaliknya kita tidak boleh merasa bahwa negara akan berbuat semuanya. Kita tidak ingin, kita ingin justru menemukan peran swasta yang lebih besar tapi besar tapi bener jangan besar tidak bener," kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.