Presiden Prabowo Sampaikan KEM-PPKF, IHSG Berbalik Menguat

Presiden Prabowo Sampaikan KEM-PPKF, IHSG Berbalik Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia berbalik menguat pada Rabu (20/5/2026) pagi saat para pelaku pasar mencermati pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta.

Data dari Antara menunjukkan IHSG pada pukul 09.45 WIB naik 54,58 poin atau 0,86 persen ke posisi 6.425,26, sementara indeks LQ45 melonjak 1,43 persen ke level 643,89 setelah sempat dibuka melemah.

Presiden Prabowo Subianto mendatangi Gedung DPR/MPR sekitar pukul 09.32 WIB didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Ketua DPR RI Puan Maharani untuk menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro (KEM) serta Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2027.

Selain mendengarkan pidato presiden, agenda rapat paripurna lainnya adalah pemaparan laporan Badan Legislasi DPR terkait evaluasi prolegnas RUU Prioritas 2026 serta pandangan fraksi atas revisi Undang-Undang Kepolisian.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memaparkan alasan di balik kehadiran langsung kepala negara untuk membacakan paparan ekonomi yang biasanya diwakili oleh Menteri Keuangan tersebut.

"Kebetulan tanggal 20 hari Kebangkitan Nasional. Jadi Presiden ingin memanfaatkan momentum untuk sekali lagi kita menyatukan pandangan dan kekuatan sebagai satu bangsa," kata Prasetyo kepada wartawan, Selasa (19/5).

Prasetyo menambahkan bahwa penyelarasan perspektif seluruh elemen bangsa ini sangat krusial, khususnya dalam menjaga stabilitas sistem perekonomian domestik.

"Terutama di dalam menjalankan tugas menjaga perekonomian bangsa kita," sambungnya.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai pidato ini menjadi sentimen penggerak pasar yang krusial karena investor membutuhkan kejelasan arah kebijakan ekonomi jangka pendek.

"Secara teknik, area 6.300 menjadi support psikologis yang sangat penting bagi IHSG. Jika level ini mampu dipertahankan, peluang rebound menuju area 6.500-6.535 masih terbuka. Namun, apabila support tersebut ditembus, maka risiko pelemahan lanjutan akan semakin besar karena pasar akan mulai masuk fase krisis kepercayaan jangka pendek," ujar analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Hendra berpendapat situasi pasar saham domestik akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana pemerintah memaparkan langkah konkret dalam merespons dinamika fiskal dan pelemahan nilai tukar rupiah.

"Namun, jika pelaku pasar menilai belum ada langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan investor, maka tekanan terhadap pasar domestik masih berpotensi berlanjut," ujar Hendra.

Menurut Hendra, kejelasan regulasi dari pemerintah merupakan instrumen utama yang dinanti oleh penanam modal asing maupun lokal di tengah ketidakpastian arah ekonomi saat ini.

"Pidato Presiden berpotensi menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan apakah pasar mulai menemukan titik stabilisasi atau justru kembali kehilangan arah," ujar Hendra.

Selain itu, Hendra menggarisbawahi bahwa pergerakan mata uang rupiah serta arus modal asing yang keluar dari pasar saham domestik turut memberikan tekanan besar pada pergerakan indeks.

"Ketika rupiah terus melemah bersamaan dengan keluarnya dana asing dari pasar saham, maka tekanan terhadap IHSG biasanya akan menjadi lebih besar. Oleh karena itu, stabilitas rupiah dalam beberapa hari ke depan akan menjadi salah satu penentu utama apakah pasar bisa mulai rebound atau justru kembali mengalami panic selling," ujar Hendra.

Di samping faktor domestik dan antisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait BI-Rate, sentimen global dilaporkan membaik setelah Presiden AS Donald Trump menunda aksi militer terhadap Iran.

Artikel terkait

Rekomendasi