Prabowo Subianto Proyeksikan Harga Minyak Mentah Indonesia Berada di Level 70-95 Dolar AS pada 2027

Prabowo Subianto Proyeksikan Harga Minyak Mentah Indonesia Berada di Level 70-95 Dolar AS pada 2027

Pemerintah menetapkan asumsi makro terkait harga minyak mentah Indonesia pada kisaran 70 sampai 95 dolar Amerika Serikat (AS) per barel untuk tahun 2027. Proyeksi ini termuat dalam penyusunan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2027, seperti dikutip dari Money.

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rancangan kebijakan fiskal tersebut saat membuka rapat paripurna DPR RI pada Rabu (20/5/2026). Selain memproyeksikan harga minyak, pemerintah juga menetapkan target lifting minyak bumi sebesar 602.000 sampai 615.000 barel per hari.

Sementara itu, target untuk lifting gas dipatok pada kisaran 934.000 sampai 977.000 barel setara minyak bumi per hari.

“Harga minyak mentah Indonesia diperkirakan sebesar 70 sampai 95 dollar AS per barrel. Selanjutnya, lifting minyak bumi ditargetkan 602.000 sampai 615.000 barrel per hari. Dan lifting gas 934.000 hingga 977.000 barrel setara minyak bumi per hari,” ujar Prabowo dalam pidatonya.

Asumsi harga minyak mentah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebelumnya berada di angka 70 dolar AS per barel. Namun, ketegangan global yang dipicu oleh perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, serta penutupan Selat Hormuz, memicu lonjakan tajam harga minyak dunia.

Kenaikan harga minyak global ini memberikan tekanan yang signifikan terhadap stabilitas APBN 2026, khususnya pada sektor subsidi energi. Berdasarkan simulasi anggaran, setiap kenaikan 1 dolar AS per barel di atas asumsi dasar akan menambah penerimaan negara sekitar Rp 3,5 triliun karena Indonesia masih mengekspor minyak.

Meski demikian, lonjakan harga tersebut juga meningkatkan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) secara drastis. Setiap kenaikan 1 dolar AS per barel diperkirakan menambah pengeluaran subsidi BBM hingga Rp 10,3 triliun, sehingga memicu tambahan defisit sekitar Rp 6,8 triliun.

Kondisi ini menegaskan bahwa sensitivitas fiskal Indonesia terhadap gejolak energi global masih sangat tinggi, terutama ketika konflik geopolitik mengganggu jalur distribusi minyak dunia.

Perkembangan Harga Minyak Dunia dan Realisasi Lifting

Di pasar internasional, harga minyak dunia terpantau melemah tipis pada akhir perdagangan Selasa (20/5/2026) waktu setempat atau Rabu waktu Indonesia. Penurunan ini terjadi setelah Amerika Serikat mengisyaratkan adanya perkembangan positif dalam perundingan dengan Iran.

Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Juli turun 82 sen atau 0,73 persen ke level 111,28 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni menyusut 89 sen atau 0,82 persen menjadi 107,77 dolar AS per barel.

Kontrak WTI yang lebih aktif untuk pengiriman Juli ditutup melemah 23 sen ke posisi 104,15 dolar AS per barel. Walau mengalami koreksi, harga minyak global dinilai masih bertahan pada level yang cukup tinggi.

Sebelum melemah, Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak 5 Mei pada perdagangan Senin sebelumnya, sedangkan WTI mencapai posisi puncak sejak 30 April. Penurunan harga ini dipicu oleh pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance mengenai kemajuan pembicaraan damai di Timur Tengah antara Washington dan Teheran.

Realisasi Sektor Migas Indonesia

Dari dalam negeri, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa realisasi lifting minyak bumi sepanjang tahun 2025 mencapai 605.300 barel per hari. Capaian tersebut melampaui target yang ditetapkan dalam APBN 2025 sebesar 605.000 barel per hari.

"Jadi mencapai target bahkan melampaui, sekalipun ini sedikit," ucap Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Bahlil Lahadalia menambahkan bahwa realisasi ini memecahkan tren negatif dengan menjadi kenaikan lifting minyak pertama yang memenuhi target APBN dalam 9 tahun terakhir. Untuk sektor gas bumi, realisasi lifting mencatatkan angka 951.800 barel setara minyak per hari, atau setara 94,7 persen dari target APBN 2025 yang sebesar 1,005 juta barel setara minyak per hari.

Artikel terkait

Rekomendasi