Presiden Prabowo Restui Tujuh Langkah BI Perkuat Nilai Tukar Rupiah

Presiden Prabowo Restui Tujuh Langkah BI Perkuat Nilai Tukar Rupiah

Nilai tukar rupiah tercatat menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (6/5/2026) setelah Presiden Prabowo Subianto menyetujui langkah-langkah strategis pemerintah untuk meredam tekanan pasar keuangan. Mata uang Garuda terapresiasi 0,03% ke level Rp17.405 per dolar AS pada pukul 11.27 WIB menurut data Refinitiv.

Penguatan ini terjadi menyusul rapat terbatas menteri Kabinet Merah Putih bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa (5/5/2026). Dalam pertemuan tersebut, Presiden menyoroti fenomena aliran modal keluar atau capital outflow dan menginstruksikan langkah mitigasi segera.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa pemerintah telah menyepakati pola kerja sama lintas otoritas untuk menjaga stabilitas pasar. Penegasan ini disampaikan usai pertemuan tingkat tinggi tersebut guna memberikan kepastian kepada pelaku pasar mengenai ketahanan ekonomi nasional.

"Dan tadi disepakati, dilaporkan ke Bapak Presiden, kesepakatan kerja sama antara BI dan Menteri Keuangan sehingga ke depan ini bisa dijaga terkait dengan capital outflow," ujar Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Bank Indonesia (BI) menyiapkan tujuh langkah strategis untuk menopang nilai tukar. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa seluruh rencana aksi tersebut telah mendapatkan persetujuan langsung dari Presiden guna menjamin stabilitas mata uang di masa depan.

"Kami melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden merestui dan kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan tujuh langkah penting yang ditempuh Bank Indonesia untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI.

Salah satu langkah prioritas otoritas moneter adalah memperkuat intervensi di pasar valuta asing. Perry menekankan bahwa ketersediaan cadangan devisa nasional saat ini berada dalam posisi yang sangat mencukupi untuk melakukan stabilisasi harga di pasar.

"Cadangan devisa kami lebih, jadi cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu," jelas Perry Warjiyo, Gubernur BI.

BI juga fokus mendorong aliran modal masuk melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menutupi pelemahan di sektor saham dan Surat Berharga Negara (SBN). Selain itu, koordinasi fiskal-moneter diperketat melalui aksi pembelian kembali atau buyback surat utang di pasar sekunder.

"Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date adalah Rp123,1 triliun. Kami akan melakukan koordinasi termasuk nanti Pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback dan segala macam. Koordinasi sangat erat antara fiskal dan moneter," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI.

Kebijakan teknis lainnya mencakup pembatasan pembelian dolar di pasar domestik guna menjaga ketersediaan likuiditas perbankan tetap longgar. Ambang batas pembelian tanpa dokumen underlying yang sebelumnya 100 ribu dolar per orang kini dipangkas menjadi separuhnya.

"Yang dulunya 100 ribu dolar per orang per bulan, kita turunkan 50 ribu dolar per orang per bulan. Itu yang kami langsung koordinasi dengan KSSK untuk penguatan," lanjut Perry Warjiyo, Gubernur BI.

Langkah terakhir melibatkan pengawasan ketat terhadap korporasi yang memiliki aktivitas transaksi dolar tinggi. BI bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengirimkan tim pengawas guna memantau aktivitas perbankan secara langsung.

"Yang terutama kami lihat bank-bank korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya tinggi, kami kirim pengawas ke sana koordinasi dengan Bu Frederica Widyasari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga," ujar Perry Warjiyo, Gubernur BI.

Dari sisi fiskal, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menempuh jalur diversifikasi valuta asing dengan mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Pemerintah berencana menerbitkan Panda Bond atau surat utang berdenominasi yuan di China untuk mendapatkan pendanaan dengan biaya lebih rendah.

"Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan bond dalam bentuk Panda Bond di China, dengan bunga yang lebih rendah sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Purbaya menambahkan bahwa imbal hasil investor China yang lebih kompetitif akan memperkaya pasokan valas di dalam negeri. Ia menegaskan agar masyarakat tetap tenang menghadapi dinamika pasar karena posisi keuangan negara dalam kondisi yang kuat.

"Jadi diversifikasi kita akan lebih baik lagi ke depan. Jadi prospek kita bagus, teman-teman semua nggak usah takut. Tadi Pak Presiden juga bilang sama saya suruh sampaikan pesan bahwa uang saya cukup, duitnya banyak, jadi Anda enggak usah takut," papar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Artikel terkait

Rekomendasi