Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 kepada parlemen pada Rabu, 20 Mei 2026. Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8 hingga 6,5 persen serta mematok nilai tukar rupiah pada kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.
Langkah penyerahan kerangka makro secara langsung oleh Presiden yang sedang menjabat ini menjadi momen pertama dalam sejarah fiskal Indonesia. Target pertumbuhan tersebut menjadi pijakan awal demi mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen yang dicanangkan Prabowo pada 2029.
Selain pertumbuhan ekonomi dan kurs rupiah, RAPBN 2027 menetapkan target defisit anggaran sebesar 1,8 hingga 2,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini berada di bawah batas aman undang-undang sebesar 3 persen demi menjaga disiplin anggaran negara. Pemerintah juga memproyeksikan angka inflasi pada rentang 1,5 sampai 3,5 persen, harga minyak mentah Indonesia sebesar 70 hingga 95 dolar AS per barel, serta imbal hasil obligasi negara 10 tahun pada 6,5 sampai 7,3 persen.
Dilansir dari Kompas, kebijakan fiskal dan moneter tahun depan akan difokuskan untuk menjaga stabilitas mata uang. Rentang nilai tukar yang lebar mengindikasikan bahwa pemerintah mengantisipasi tekanan eksternal yang terus berlanjut terhadap rupiah sepanjang tahun depan.
Dari sisi postur anggaran, belanja negara diproyeksikan mencapai 13,62 hingga 14,80 persen dari PDB, sementara pendapatan negara ditargetkan sebesar 11,82 hingga 12,40 persen. Selisih dari kedua pos tersebut membentuk angka defisit yang saat ini sedang ditinjau oleh DPR. Pemerintah juga membidik penurunan angka kemiskinan menjadi 6,0 hingga 6,5 persen pada akhir tahun 2027 melalui alokasi bantuan sosial dan ketahanan pangan.
Dilansir dari Liputan6, pengelolaan belanja ini akan diselaraskan dengan rencana pembangunan pemerintah pusat dan daerah. Pembatasan defisit juga terus diupayakan demi mempertahankan peringkat kredit berdaulat Indonesia di mata lembaga pemeringkat global.
Bersamaan dengan pengumuman anggaran tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia melonjak 54 poin atau 0,9 persen ke level 6.429 pada perdagangan Rabu pagi. Kenaikan ini menghentikan pelemahan yang berlangsung selama enam sesi berturut-turut setelah indeks menyentuh level terendah dalam 13 bulan pada hari sebelumnya.
Kondisi pasar saham juga dipengaruhi oleh langkah Kementerian Keuangan yang berencana menyuntikkan dana sebesar Rp2 triliun setiap hari ke pasar obligasi. Langkah intervensi ini diambil untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, menekan aliran modal keluar, dan meredam volatilitas pasar. Sementara itu, Bank Indonesia mengisyaratkan arah kebijakan yang pro-stabilitas menjelang hasil rapat dewan gubernur hari ini.