Sistem ekonomi Indonesia dinilai berada di jalur yang tidak tepat oleh Presiden Prabowo Subianto karena angka kemiskinan justru meningkat di saat ekonomi menunjukkan pertumbuhan. Kritik tersebut disampaikan dalam rapat Paripurna di DPR RI pada Rabu (20/5/2026) saat memaparkan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027.
Kegagalan menjadi negara makmur dikhawatirkan terjadi jika kondisi ekonomi saat ini terus dilanjutkan tanpa ada perubahan arah kebijakan. Dilansir dari Detik Finance, Presiden menegaskan bahwa kemakmuran merupakan aspek krusial yang harus dicapai demi menjaga kedaulatan negara.
"Kita harus lihat fakta, kalau kita teruskan sistem seperti ini untuk sekian tahun lagi, saya yakin bahwa tidak mungkin kita jadi bangsa yang makmur. Tidak mungkin kita jadi, tanpa kemakmuran kita tidak mungkin bisa menjaga kedaulatan kita," ujarnya dalam rapat Paripurna di DPR RI, Rabu (20/5/2026).
Presiden Prabowo Subianto juga memperingatkan dampak negatif yang akan dihadapi jika Indonesia gagal mencapai kemakmuran, termasuk munculnya rasa takut terhadap krisis energi dan fluktuasi mata uang.
"Bahwa kemungkinan besar kita akan menjadi bangsa yang lemah. Bangsa yang selalu takut. Takut kurs dolar, takut BBM tidak cukup. Takut ini, takut itu, bangsa yang takut. Bangsa yang elitnya takut. Padahal kita diberi karunia yang luar biasa," sebut Prabowo.
Persentase pertumbuhan ekonomi nasional dipertanyakan oleh Kepala Negara karena akumulasi pertumbuhan sekitar 5 persen per tahun selama tujuh tahun terakhir dinilai tidak sinkron dengan kondisi riil masyarakat. Prabowo menyoroti penyusutan jumlah kelas menengah yang terjadi bersamaan dengan penambahan angka masyarakat miskin.
"Saudara-saudara sekalian, pertumbuhan kita dalam 7 tahun terakhir memang baik, 5% tiap tahun. Selama 7 tahun, kali 5% pertumbuhan kita 35%. Harusnya kita tambah kaya 35%. Tapi apa yang terjadi?" tanya Prabowo.
Kondisi riil tersebut baru diketahui secara mendalam melalui berbagai data ekonomi yang diterima beberapa minggu setelah ia resmi menjabat sebagai presiden. Mantan Danjen Kopassus itu mengibaratkan perasaannya seperti terpukul di ulu hati saat pertama kali melihat data ketimpangan tersebut.