Prabowo Subianto Bahas Dampak Ekonomi Global Bersama Eks Petinggi BI

Prabowo Subianto Bahas Dampak Ekonomi Global Bersama Eks Petinggi BI

Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah mantan petinggi Bank Indonesia dan mantan menteri perekonomian ke Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Jumat (22/5/2026). Pertemuan tersebut digelar khusus untuk mendiskusikan situasi perekonomian terkini, terutama terkait pergerakan nilai tukar rupiah serta laju inflasi.

Mantan Gubernur Bank Indonesia periode 2003-2008, Burhanuddin Abdullah, memberikan keterangan mengenai isi pertemuan tersebut. Fokus utama diskusi diarahkan pada perumusan langkah penanganan dampak ketidakpastian global dari sisi kebijakan fiskal dan moneter negara.

Dilansir dari Detik Finance, tantangan eksternal saat ini dinilai memiliki kemiripan dengan situasi perekonomian pada tahun 2005 silam. Meski demikian, Burhanuddin menegaskan bahwa fokus pembahasan tidak secara spesifik tertuju pada pelemahan rupiah yang kini menyentuh angka Rp 17.600 per Dolar AS.

"Nggak, bukan itu (bukan terkait rupiah). Dulu misalnya kan tahun 2005 kita naikin BBM 126%, cuma beda sumbernya aja, sekarang eksternal, dulu di dalam negeri yang menaikkan. Itu juga karena eksternal kan, faktornya maksud saya," jelas Burhanuddin Abdullah, Mantan Gubernur Bank Indonesia.

Koordinasi yang kuat antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi poin krusial yang ditekankan dalam diskusi tersebut. Kerja sama tim di internal pemerintahan dianggap menjadi kunci utama untuk meredam dampak tekanan ekonomi eksternal saat ini.

"Di pemerintah lah, di pemerintah. Jadi fiskalnya bagaimana, moneter bagaimana, secara tim teamwork-nya harus seperti apa untuk menyelesaikan masalah ini," ujar Burhanuddin Abdullah, Mantan Gubernur Bank Indonesia.

Depresiasi nilai tukar rupiah saat ini dinilai masih berada dalam batas yang jauh lebih aman dibandingkan dengan periode krisis masa lalu. Menurut Burhanuddin, tingkat pelemahan mata uang garuda sekarang hanya berada di kisaran 5 persen saja.

"Kan Rp 16.000-17.000 ini kan kenaikannya 5%. Tetapi orang cenderung memikirkannya itu dulu Rp 2.500 kan. Nah kecenderungan ini yang barangkali harus lebih banyak dijelaskan. Selama satu tahun 2025 itu hanya 3,4% depresiasinya, sekarang 5%," tutur Burhanuddin Abdullah, Mantan Gubernur Bank Indonesia.

Masyarakat diharapkan tidak membandingkan kondisi kurs saat ini dengan masa lalu yang sudah terlalu jauh. Sosialisasi dan edukasi mengenai perbandingan persentase depresiasi zaman krisis dinilai perlu digencarkan agar tidak memicu kekhawatiran berlebih.

"Jadi kecil sekali sebetulnya dibandingkan dengan dulu itu 42% zaman krisis, sampai 21% waktu itu. Tapi kita berpikirnya ke masa lalu yang terlalu jauh gitu. Nah ini yang barangkali perlu di-exercise kepada masyarakat lebih disosialisasikan gitu," sambung Burhanuddin Abdullah, Mantan Gubernur Bank Indonesia.

Pertemuan di Istana tersebut juga dipastikan tidak membahas mengenai keputusan kenaikan BI Rate sebesar 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur tanggal 19-20 Mei 2026. Burhanuddin kemudian membagikan pengalaman historisnya saat menghadapi lonjakan inflasi hingga 17 persen akibat kenaikan harga BBM pada tahun 2005.

"Jadi dia setelah tahu bahwa direspon positif, turun pelan-pelan, rupiah stabil, turun pelan-pelan, akhirnya tahun 2006 inflasi kita kembali ke tahun 2004. Dari 6% ke 6% lagi setelah tahun 2005-nya 17% karena kasus kenaikan harga BBM yang tinggi sekali," tutup Burhanuddin Abdullah, Mantan Gubernur Bank Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi